Tak sedikit wanita di zaman sekarang yang meskipun sudah berumah tangga juga masih bekerja di luar rumah. Pemenuhan kebutuhan ekonomi atau ingin melanjutkan karier adalah alasan yang sering melatarbelakangi para ibu muda untuk tetap bekerja. Bagi Mam yang bekerja di kantor dan senantiasa berkutat dengan deadline yang ketat pasti tahu bagaimana rasanya bekerja di bawah tekanan. Selain itu, deadline yang ada terkadang membuat kita tidak memiliki banyak waktu untuk bersantai, bahkan sampai membuat kita lupa makan siang di jam istirahat. Bekerja di bawah tekanan memang baik untuk menempa kita menajd invidu yang cekatan dan profesional, tapi jika berlebihan juga tidak baik untuk kesehatan mental. Berikut lima tanda Mam perlu mengambil cuti.
Pekerjaan Mendominasi Pikiran
Karena terlalu sibuk, Mam bahkan harus memikirkan pekerjaan walaupun sudah berada di rumah. Negosiasi dengan klien, deadline, jadwal meeting dan sebagainya tidak bisa Mam hilangkan dari pikiran. Yang ada di pikiran Mam hanyalah pekerjaan, bahkan membuat Mam tidak begitu memperhatikan kondisi sekitar misalnya keluarga. Mam pun tidak ingat kapan terakhir kali bersenang-senang, berekreasi, dan melakukan hobi Mam.
Mudah Sakit
Karena pekerjaan mendominasi pikiran, Mam jadi kurang memikirkan kesehatan Mam sendiri. Tidur larut malam karena menyelesaikan pekerjaan bisa memicu stres yang akhirnya akan melemahkan daya tahan tubuh. Ditambah dengan rasa lelah dan sakit kepala akibat pekerjaan yang menumpuk bisa membuat Mam jatuh sakit. Melupakan makan siang demi mengejar deadline juga berbahaya bagi kesehatan lambung Mam.
Mudah Merasa Lelah
Semua orang yang bekerja pasti merasakan lelah. Namun, jika rasa lelah ini dirasakan setiap hari dan bahkan makin parah, itu artinya tubuh dan pikiran Mam sudah terlalu lelah untuk memikul beban pekerjaan selama ini. Rasa jenuh terhadap pekerjaan juga membuat Mam lebih mudah merasa lelah. Itu artinya Mam perlu menyegarkan kembali pikiran yang kalut.
Merasa Pekerjaan Semakin Banyak
Selesai mengerjakan pekerjaan A lanjut ke pekerjaan B lalu lanjut ke pekerjaan C dan seterusnya. Pekerjaan seakan tidak ada habisnya walaupun semua waktu yang ada sudah digunakan untuk menyelesaikannya. Bisa jadi hal tersebut disebabkan karena efisiensi Mam dalam mengatur waktu mulai menurun akibat rasa jenuh dan lelah. Akibatnya, ketika melihat pekerjaan yang menggunung semangat Mam bukannya malah berapi-api justru malah menurun sehingga merasa pekerjaan lebih banyak dari biasanya.
Emosi Tak Terkendali
Depresi di lingkungan kerja terbawa hingga ke rumah. Ketika ada anggota keluarga yang berbicara dengan Mam untuk membahas topik yang kurang nyaman di telinga maka Mam akan mudah tersinggung dan akhirnya marah. Pernahkah mengalami yang demikian? Ini menandakan emosi yang tidak lagi stabil. Rasa lelah setelah seharian di kantor membuat perasaan tidak nyaman sehingga keluargalah yang akan menjadi pelampiasan Mam.
Bekerja dengan deadline memang membuat Mam berisiko mengalami depresi. Untuk itu, sebelum depresi berkembang menjadi stres, sebaiknya segarkan pikiran dengan berlibur. Bekerja dengan pikiran yang tidak tenang ditambah rasa jenuh justru akan menyebabkan produktivitas Mam menurun. Oleh sebab itu, ketika mengalami lima tanda di atas, segeralah ambil cuti.







18 Jan 2017
Penulis Redaksi IbuDanMama
0 Komentar