3 Mitos dan Fakta Soal Ovulasi

Mam pasti sudah sering mendengar istilah ovulasi, yang merupakan proses pelepasan sel telur dari ovarium menuju tuba falopi. Saat sel telur sudah berada di tuba falopi, artinya siap dibuahi oleh sperma. Masa ovulasi inilah saat di mana wanita dianggap sedang dalam masa subur dan tingkat terjadinya kehamilan semakin besar. Buat Mam yang sedang merencanakan kehamilan, mengetahui kapan masa ovulasi bisa membantu mempercepat proses kehamilan. Namun, masih banyak mitos dan fakta yang beredar di masyarakat tentang ovulasi dan hubungannya dengan proses kehamilan. Apa sajakah mitos soal ovulasi dan fakta dibaliknya?

  1. Waktu terjadi ovulasi adalah hari ke 14

Masih banyak yang percaya bahwa ovulasi terjadi di hari ke 14 siklus menstruasi dan menjadikan angka ini sebagai patokan untuk melakukan hubungan suami istri agar tingkat kehamilan semakin besar. Hal ini tidak sepenuhnya benar namun juga tidak salah. Bagi wanita yang memiliki siklus menstruasi yang teratur 28 hari, hari ke 14 mungkin saja benar menjadi masa ovulasi. Namun, tidak semua wanita memiliki siklus menstruasi yang sama.

 

Biasanya siklus normal menstruasi antara 25-30 hari. Untuk mengetahui masa ovulasi adalah dengan menghitung ke belakang. Mam bisa memperkirakan kapan hari pertama menstruasi akan terjadi, kemudian hitung mundur 12 hari dan kurang lagi 4 hari. Nah, masa ovulasi Mam akan berlangsung kisaran 5 hari dari tersebut. Namun, hal ini juga bisa berubah karena terkadang Mam mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur.

 

  1. Waktu terbaik untuk melakukan hubungan adalah setelah masa ovulasi

Banyak pasangan yang mengira bahwa saat terbaik untuk melakukan hubungan adalah 1 hingga 2 hari setelah masa ovulasi. Namun sebenarnya hal ini tidak benar karena sel telur dipercaya hanya bisa bertahan selama 24 jam saja di dalam tuba falopi setelah dilepaskan dari ovarium. Dengan begitu, waktu terbaik untuk melakukan hubungan adalah saat hari terjadinya ovulasi atau malah 1 hingga 2 hari sebelum masa ovulasi berlangsung.

 

Sel sperma bisa bertahan hingga maksimal 7 hari dalam saluran reproduksi wanita, sedangkan sel telur hanya bisa bertahan 1 hari saja. Jika Mam dan suami melakukan hubungan saat setelah masa ovulasi berlangsung, justru peluang terjadinya kehamilan menjadi semakin kecil karena dinding rahim bisa saja sudah ikut luruh dalam menstruasi. Waktu terbaik memang saat masa ovulasi dan juga 1 hingga 2 hari sebelumnya.

 

  1. Masa ovulasi bisa diketahui dari tanda-tanda yang dialami

Ada beberapa tanda yang menunjukkan wanita sedang mengalami masa ovulasi. Seperti contohnya mengetahui dari suhu tubuh saat beristirahat atau yang biasa disebut suhu basal, mengalami keputihan, kram pada perut, dan merasa lebih bergairah. Umumnya suhu basal tubuh dan keputihan dijadikan patokan sedang terjadinya masa ovulasi. Namun sebenarnya dua hal ini bukan tanda pasti seorang wanita mengalami ovulasi.

 

Ada beberapa wanita yang tidak menunjukkan tanda-tanda yang jelas selama masa ovulasi, namun mengalami ovulasi. Ada beberapa juga yang mengalami tanda sedang ovulasi namun sebenarnya belum mengalami masa ovulasi. Maka dari itu perubahan suhu basal tubuh, keputihan, dan kram perut tidak bisa dijadikan penentu masa ovulasi. Terkadang keputihan juga pertanda adanya masalah kesehatan dalam organ reproduksi.

 

Jadi Mam, menentukan masa ovulaso tidak semudah mengetahui tanda-tanda ataupun melakukan hitungan siklus menstruasi karena siklus bisa berubah dan membuat perhitungan meleset. Jika Mam benar-benar ingin segera memiliki anak, ada baiknya konsultasi kepada dokter dan merencanakan program kehamilan, daripada melakukan perhitungan masa ovulasi.

 

Dari Ibu dan Mama untuk Ibu dan Mama. Sahabat terbaik yang mendengarkan, mengerti dan membantu ibu dan mama seluas Indonesia. Mari bergabung dengan komunitas kami!

Related Posts

Comments :