Perut Mam Terlalu Besar Ketika Hamil? Waspadai Hal Ini

Menjadi seorang ibu untuk pertama kalinya memang memberikan perasaan yang campur aduk, mulai dari bahagia, terharu, hingga terkadang rasa takut pun sering hadir setelah Mam dikatakan tengah mengandung. Selain tendangan-tendangan kecil yang paling ditunggu oleh calon ibu, terkadang ada pula ibu yang sangat menanti kondisi di mana perutnya atau baby bumps-nya sudah mulai terlihat. Mam, tapi tahukah Anda kalau perut yang terlalu besar semasa kehamilan pun ada dampak negatifnya, lho!

Ukuran perut hamil pada setiap ibu memang berbeda-beda, ada yang terlihat kecil meskipun sudah mencapai usia kandungan 7 bulan atau sudah terlihat seperti hamil berusia 7 bulan padahal usia kandungan sebenarnya adalah 3 bulan. Kondisi perut hamil yang besar atau kecil adalah hal wajar, hanya saja jika perutnya terlalu besar dikhawatirkan Anda terdiagnosa Disproposi sefalopelfik (CPD).

CPD merupakan diagnose di mana kepala bayi dianggap terlalu besar untuk melewati panggul sang ibu. Apa yang menyebabkan CPD? Berikut penjelasannya.

Ukuran Bayi Terlalu besar

Seorang bayi akan dianggap terlalu besar jika berat badannya mencapai 4 kg atau lebih ketika lahir. Berat bayi yang normal rata-rata berkisar antara 3 dan 3,2 kg. Ada beberapa hal yang menyebabkan bayi Anda menjadi besar di atas rata-rata, mulai dari faktor genetika, sang ibu makan terlalu banyak selama kehamilan, diabetes gestasional, dan bayi yang terlalu lama di dalam perut ibu. Biasanya ukuran bayi laki-laki lebih besar dibandingkan dengan ukuran bayi perempuan.

Pelvis Terlalu Kecil

Alasan lain yang menyebabkan seorang ibu didiagnosa CPD adalah memiliki pelvis yang terlalu kecil sehingga tidak mampu menampung si kecil. Terdapat sebuah studi yang menunjukkan kalau wanita yang memiliki ukuran tubuh lebih pendek akan cenderung memiliki CPD.

Posisi Janin yang Abnormal

Salah satu penyebab lain dari seorang ibu yang kemungkinan memiliki CPD adalah posisi janin yang tidak normal, salah satunya posisinya adalah occipito-posterior. Posisi ini terjadi ketika bayi menghadap ke perut sang ibu dan bukan punggungnya. Contoh lainnya adalah posisi bayi yang berada di ‘brow position’ dimana posisi lehernya hyperflex dan meluas atau secara sederhananya kepala si kecil mencoba masuk ke dalam panggul terlebih dahulu.

Pelvis yang Tidak  Berbentuk Normal

Tidak hanya kondisi bayi yang tidak normal yang menyebabkan CPD, tetapi kondisi pelvis sang Ibu yang tidak normal juga bisa menjadi salah satu faktor penyebabnya. Kondisi pelvis yang tidak normal ini bisa terjadi ketika pernah mengalami kecelakaan, menderita penyakit Rakhitis (kelainan kerangka yang disebabkan oleh kekurangan vitamin D, kalsium atau fosfat), osteomalacia (pelunakan tulang karena kekurangan vitamin D), atau tumor pada tulang.

Nah, Mam, kira-kira seperti itulah penjelasan mengenai CPD atau kondisi perut ibu hamil yang terlalu besar. Mam, mengutip halaman Smartparents, sebuah penelitian menunjukkan kalau sampai 60 persen dari ibu hamil dengan CPD masih bisa melakukan persalinan secara normal, meskipun hal tersebut tidak disarankan. Kalau memang Anda ingin melahirkan secara normal tetapi memiliki CPD, mungkin bisa melakukan diet terlebih dahulu. Mam, tapi ada baiknya jika Anda mengunjungi dokter Anda terlebih dahulu untuk memastikan langkah mana yang harus dipilih dan terbaik untuk keselamatan ibu dan juga bayi.

Baca juga : 

Bagaimana Mengatasi Banjir Ludah Saat Hamil?

Dari Ibu dan Mama untuk Ibu dan Mama. Sahabat terbaik yang mendengarkan, mengerti dan membantu ibu dan mama seluas Indonesia. Mari bergabung dengan komunitas kami!

Related Posts

Comments :