Ayah Dipa: “ASI adalah Mindset”

Simak wawancara ibudanmama.com dengan salah seorang anggota komunitas AyahASI, Dipa Andika.

Ibu dan mama (IM) : Apakah manfaat ASI bagi Ibu dan Anak?


Ayah Dipa (AD) : Manfaat ASI dilihat dari sudut pandang ayah adalah dari sisi “bonding” yang tinggi. Sebelum bicara manfaat, keberhasilan ASI sangat ditentukan oleh 3 pihak, yaitu ayah, ibu, dan anak. Pemberian ASI akan sukses apabila saling didukung oleh 3 komponen tersebut. Kenapa ayah ikut berperan penting di sini, karena ibu tidak bisa mengeluarkan ASI tanpa adanya dukungan dari ayah. ASI keluar karena dorongan hormon oksitosin atau hormon “happy”. Ibu akan bisa mengeluarkan ASI ketika dia merasakan “happy”. Jadi, tugas ayah salah satunya adalah membuat ibu merasa bahagia dan senang.

Sedangkan, manfaat ASI adalah menciptakan bonding yang sangat kuat, artinya kedekatan antara anak dengan ibu, anak dengan ayah. Ketika anak menangis, sebelum diberikan kepada ibu untuk disusui, lebih baik digendong terlebih dahulu oleh ayah. Hal ini akan melahirkan bonding yang sangat kuat. Ketika bayi digendong oleh ayah, maka anak akan merasakan kehangatan dan kedekatan dengan ayahnya. Misalnya seperti memakaikan baju anak, alangkah baiknya hal itu dilakukan berdua oleh ayah dan ibu, karena anak akan merasakan kehangatan yang lebih dari pertukaran suhu antara ayah, ibu, dan anak.

IM: Apakah ada perbedaan secara kasat mata yang bisa dilihat di sekitar lingkungan Anda antara anak ASI dengan anak non ASI?

AD: Sebenarnya sangat terlihat jelas. Contoh, ketika ada ayah yang berpikir, “Anak saya lagi sakit.. oh itu karena lagi musim sakit”. Padahal sebenarnya tidak ada sakit karena musiman, seperti yang saya rasakan di sekitar rumah saya, di saat bayi-bayi yang lain sering sakit, anak saya hanya sakit sekali atau dua kali dalam setahun. Dan itupun sebagian besar karena efek paska imunisasi. ASI menambah kekebalan tubuh anak dan memberi proteksi 2 kali lebih kuat pada tubuh si anak.

 

IM: Bagaimana tanggapan Anda terhadap pendapat sebagian besar ibu tentang ASI mereka yang tidak keluar?


AD: Menurut saya, ASI adalah Mindset, karena Tuhan memberi satu paket komplit, dimana ada anak yang dilahirkan, pasti akan tersedia ASI. Sehingga ketika berpikir ASInya banyak, maka ASIpun akan banyak atau cukup. Saya selalu memotivasi istri saya dengan mengatakan ASI istri saya akan cukup untuk kebutuhan anak saya. Selain mindset, konselor juga dibutuhkan saat ASI yang keluar sedang sedikit.

 

IM: Bagaimana kisah awal munculnya AyahASI?

AD: AyahASI sebenarnya terdiri dari delapan ayah yang tidak pernah saling kenal sebelumnya. Kita sering bertemu di seminar ASI dari AIMI karena menemani istri dan saling kenal dengan wakil ketua ASI, ibu Ima Estianti. Sebelumnya kita terdiri dari dari enam orang dan diminta berkumpul oleh ibu Ima bersama salah seorang pengurus AIMI untuk mendirikan suatu komunitas baru tentang ASI. Saya adalah orang ketujuh yang bergabung dan setelah itu Sogi bergabung menjadi anggota yang kedelapan. Salah seorang AyahASI, Shofiq punya ide untuk membuat buku. Dan akhirnya kita berdelapan mengumpulkan materi, dibantu oleh Syarief Hidayatullah sebagai editor.

Kemudian, kita mulai mencari-cari penerbit yang bersedia menerbitkan buku kita. Kebetulan salah satu dari kami, Adit memiliki istri yang bekerja di penerbit. Akhirnya kita mencoba ke situ. Tantangan dari penerbit, buku ASI sebenarnya adalah buku yang jarang laris di pasaran. Akhirnya sebagai percobaan awal kita mencoba menjual sebanyak 3.000 buku dahulu. Dengan ide awal promosi menggunakan akun twitter yang dibuat pertamakalinya tanggal 27 september 2011.

Tanpa kita sadari kita berhasil mengajak 3.000 followers selama selang waktu dua hari. Karena tanpa kita sangka ibu-ibu sangat menyenangi gaya bahasa kita. Harapan kita sebelumnya dapat meraih followers laki-laki, namun ternyata lebih dari 50% followers kita adalah perempuan. Akhirnya semenjak itu kita sering menjawab pertanyaan-pertanyaan ibu seputar ASI dan mengelola akun twitter ASI.

Pada bulan Juli buku kita keluar dan buku kita sangat ditunggu oleh para ibu. Akhirnya dalam 2 bulan buku kita sudah mencapai cetakan ketiga. Setelah dua bulan, kita akan menyempurnakan buku AyahASI di cetakan keempat. AyahASI berfokus tidak hanya pada menyusui, tapi sampai ke tahap MPASI hingga home treatment. Harapan kita agar buku AyahASI bisa digunakan oleh para ibu selamanya dan kita akan berupaya untuk menyempurnakan buku ini.

 

IM: Kampanye apa yang dilakukan oleh AyahASI ke masyarakat?

AD: Fokus utama kita adalah menkampanyekan pentingnya memberikan ASI, dan hampir 100% hasil penjualan buku kita digunakan untuk modal AyahASI, kita akan membuat beasiswa ASI mengikuti seminar ASI dengan perwakilan ayah dari 33 provinsi. Ide muncul dari kisah nyata seorang ibu di pinggiran Jakarta yang sangat ingin ikut seminar ASI. Tapi hal itu sulit diwujudkan karena biaya seminar ASI yang cukup mahal. Maka kita ingin bisa share kesempatan mengikuti seminar ASI ke mereka dan berharap mereka akan membagikan cerita-cerita tersebut ke lingkungan mereka tanpa ada pungutan biaya apapun.

Kita mengharapkan dengan adanya AyahASI, angka bayi yang mendapatkan ASI akan bertambah banyak di Indonesia. Kampanye kita adalah: Ayah yang mencari nafkah sudah banyak, namun ayah yang meluangkan waktu untuk mencari informasi terbaik bagi anaknya, yaitu ASI masih perlu ditingkatkan. Sekarang kita akan bekerja sama dengan 100 bidan di Indonesia untuk menginformasikan pentingnya ASI dan sangat bermanfaat bagi bayi. AyahASI berharap di masa yang akan datang anak Indonesia akan lebih sehat dengan ASI.

Sebelum menjadi Feature writer, saya bekerja di World Vision Indonesia dan ditempatkan di Nusa Tenggara Timur. Saya menikmati bekerja bersama dengan masyarakat terutama yang fokus di bidang kesehatan Ibu dan anak. Saya juga menyukai traveling ke daerah pendalaman. Passion saya ingin membantu mewujudkan perempuan Indonesia yang sehat dan cerdas.

Related Posts

Comments :