AyahASI: Para Pejuang Keluarga

Seorang ayah belajar tentang ASI? Sebuah buku yang berjudul AyahASI menjawab pertanyaan ini dengan lugas.

Bicara tentang ASI, seringkali identik dengan dua hal, ibu dan bayi. Tetapi, kini ada istilah AyahASI, yaitu para ayah yang hadir dalam kegiatan seminar ASI atau para suami yang sangat mendukung istrinya menjalankan ASI eksklusif. Jadi, sebenarnya apakah ini salah? Jawabannya, tidak. Tidak ada yang aneh jika seorang ayah hadir dalam seminar ASI dan mencari tahu banyak hal tentang ASI.

Terbukti dari 8 pria yang menulis buku AyahASI. Mereka adalah pejuang-pejuang keluarga yang rela menghabiskan waktunya untuk mencari tahu apa yang terbaik buat keluarga. Rela meninggalkan hobi dan waktu untuk diri sendiri, para ayah ini memiliki pemikiran bahwa anak yang terlahir adalah buah hati bersama. Dengan pasangan tercinta, mereka belajar mencari informasi untuk memberikan yang terbaik buat anak.Hal ini kemudian menginspirasi terciptanya buku AyahASI yang menceritakan manfaat ASI dan pengalaman pribadi para ayah ketika sang istri memberikan ASI eksklusif.

Menyusui merupakan proses belajar. Bukan hanya bagi ibu, tetapi juga bagi bayi dan anggota keluarga lainnya, termasuk ayah. Diperlukan hubungan pola menyusui tri party antara ayah, ibu, dan bayi. Hal ini terbukti dari hasil disertasi Strategic Roles of Fathers in Optimizing Breastfeeding Practices: A Study in an Urban Setting of Jakarta yang dilakukan Ir. Judhiastuty Februhartanty, MSc, untuk meraih program doktor di FKUI.

Penelitian tersebut melibatkan 536 pasangan suami-istri yang memiliki bayi berusia 0-6 bulan di enam wilayah Jakarta Selatan. Responden adalah ibu rumah tangga yang secara umum sehat dan tinggal dalam satu rumah dengan ayah kandung bayi, ibu yang memiliki pengalaman menyusui, dan ibu melahirkan bayi tunggal cukup bulan melalui persalinan normal. Peran ayah ditentukan berdasarkan tindakan ayah selama masa kehamilan, persalinan, dan paska persalinan ibu. Berbagai tindakan ayah selama masa tersebut dijabarkan. Setiap tindakan positif yang dilakukan ayah dianggap sebagai tindakan yang mendukung.

Berdasarkan tipologi peran ayah yang diterapkan pada studi ini, diperoleh hasil bahwa: Peran 1 (mencari informasi mengenai pemberian ASI dan pola pemberian makan bayi) dipraktekkan oleh 38 persen ayah, Peran 2 (berpartisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai cara pemberian makan saat ini) oleh 23,1 persen, Peran 3 (memilih tempat untuk melakukan pemeriksaan kehamilan, persalinan, dan pemeriksaan kesehatan pasca persalinan) oleh 74,8 persen ayah, Peran 4 (tingkat keterlibatan ayah selama kunjungan pemeriksaan kehamilan) oleh 53,9 persen ayah, Peran 5 (memiliki sikap positif terhadap kehidupan pernikahan mereka) oleh 60,3 persen ayah, dan Peran 6 (terlibat dalam berbagai kegiatan perawatan anak) oleh 56,5 persen ayah.

Dalam penelitian ini berhasil dibuat profil rumah tangga tipe A, B, C, D berdasarkan karakteristik yang dimiliki ayah dan praktek pemberian ASI oleh ibu. Ayah dan ibu yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai hal-hal yang terkait dengan pemberian ASI serta saling berinteraksi satu sama lain dan telah membangun hubungan yang baik dalam pengasuhan anak secara bersama-sama, diketahui sebagai faktor kunci yang memengaruhi secara positif praktek pemberian ASI eksklusif.

Sebaliknya, ibu bekerja, pasangan suami istri yang kurang memiliki pengetahuan, serta memiliki pembagian yang sangat kaku mengenai domain laki-laki dan perempuan, diketahui sebagai faktor kunci kegagalan ibu dalam pemberian ASI eksklusif. Dalam presentasinya, Judhy menyarankan pentingnya pemberian informasi tentang ASI eksklusif dan inisiasi menyusui sejak dini sebelum berlangsungnya masa kehamilan kepada ayah dan ibu. Jangan sampai timbul salah pengertian dari orang tua yang merasa anaknya menjadi inferior karena hanya diberi ASI.

Ngobrol dengan salah satu ayahASI yaitu Dipa Andhika, ia mengatakan manfaat menyusui tidak hanya langsung dirasakan oleh anak dan ibu saja. Karena ternyata pada ayah, dampak pemberian ASI eksklusif langsung terasa dengan biaya rumah tangga yang lebih ekonomis, karena tidak perlu membeli susu formula, selain itu anggaran kesehatanpun rendah karena bayi jarang sakit. Menurut pria ini, ASI adalah pola pikir (mindset).Ketika sang ibu berpikir persediaan ASI-nya banyak, maka ASI yang keluar juga cukup, begitu juga sebaliknya. “Saya selalu memotivasi istri saya dengan mengatakan bahwa ASI istri saya akan cukup memenuhi kebutuhan anak saya.”

Sebelum menjadi Feature writer, saya bekerja di World Vision Indonesia dan ditempatkan di Nusa Tenggara Timur. Saya menikmati bekerja bersama dengan masyarakat terutama yang fokus di bidang kesehatan Ibu dan anak. Saya juga menyukai traveling ke daerah pendalaman. Passion saya ingin membantu mewujudkan perempuan Indonesia yang sehat dan cerdas.

Related Posts

Comments :