Amankah Donor ASI?

Idealnya sih bayi menyusu dari ibunya sendiri. Tetapi, kalau kondisinya tidak memungkinkan, bagaimana ya?

Dengan informasi yang meluas mengenai manfaat ASI membuat sebagian besar ibu dan mama kian menyadari pentingnya pemberian ASI eksklusif untuk buah hatinya. Bahkan, berbagai penelitian membuktikan bahwa semakin sering sang ibu menyusui, maka persediaan ASInya semakin melimpah. Hanya saja memang ada beberapa syarat agar kondisi ini bisa berjalan dengan normal, yaitu kondisi ibu dan bayi yang sehat, pemberian kesempatan bagi sang ibu untuk menjalani Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan Rawat Gabung 24 jam bersama bayinya, serta dilakukan pola bayi menyusu tanpa jadwal dengan teknik pelekatan yang efektif, yaitu diletakkan di atas dada ibu.

Sayangnya, memang tak semua ibu dapat memberikan ASI eksklusif untuk bayinya. Biasanya hal ini dikarenakan kondisi kesehatan sang ibu yang tidak mendukung, seperti:

  • Ibu dengan HIV+ (keputusan pemberian minum pada bayi sebaiknya melalui proses konseling saat ibu hamil), sakit berat (psikosis, sepsis, eklamsia, atau mengalami syok), infeksi virus Herpes Simpleks tipe 1 dengan lesi di payudara, infeksi varicella zoster pada ibu dalam kurun waktu 5 hari sebelum dan 2 hari sesudah melahirkan.
  • Ibu pengguna obat terlarang.
  • Ibu mengalami kelainan payudara, riwayat operasi pada payudara, atau jaringan payudara tidak berkembang.

Bila hal ini terjadi, maka diperlukan alternatif pemberian ASI bagi bayi, yaitu dengan menggunakan donor ASI. Untuk mendapatkan donor ASI yang ideal, diperlukan berbagai prosedur agar memastikan ASI dari donor benar-benar steril dan layak dikonsumsi bayi. Proses seleksi seharusnya dilakukan dalam 2 tahap, yaitu pemeriksaan lisan berupa pertanyaan seputar riwayat kesehatan pendonor dan pemeriksaan medis yang menyeluruh untuk mendeteksi adanya virus yang berbahaya.

Setelah menjalani kedua tahap ini, barulah pendonor diperkenankan memberi ASI. Setelah didonorkan, ASI harus disimpan di dalam wadah dan suhu khusus agar ASI tetap awet dan tidak basi. Selain itu ASI donor juga harus melewati proses pasteurisasi untuk mematikan bakteri serta virus berbahaya. Jika pada akhirnya diputuskan menggunakan ASI donor yang belum dipasteurisasi, ada 3 teknik perlakuan terhadap ASI yang biasa mengurangi penularan penyakit (terutama HIV) melalui ASI.

  • Pasteurisasi Holder: ASI dipanaskan dalam wadah kaca tertutup di suhu 62,5?C selama 30 menit. Biasanya dilakukan di Bank ASI karena membutuhkan pengukur suhu dan pengukur waktu. Sayangnya, di Indonesia Bank ASI hanya pernah beroperasi selama tiga tahun saja.
  • Flash Heating: ASI sebanyak 50 ml dimasukkan ke dalam botol kaca/botol selai ukuran sekitar 450 ml dan dibiarkan terbuka di dalam panci alumunium berukuran 1 L yang telah berisikan 450 ml air. Kemudian panci dipanaskan di atas kompor sampai air mendidih, matikan. Setelah itu, botol kaca berisi ASI diangkat dan didiamkan sampai suhunya siap untuk diminum bayi.
  • Pasteurisasi Pretoria: Panaskan air sebanyak 450 ml di panci alumunium berukuran 1 L sampai mendidih. Matikan kompor. Letakkan botol kaca terbuka yang berisi ASI sebanyak 50 ml di dalam panci selama 20 menit. Kemudian angkat dan diamkan sampai suhu ASI siap diminum bayi.
Dari ketiga teknik ini, yang paling mungkin dilakukan para ibu dan mama di rumah adalah teknik dua dan tiga. Manapun, pilih yang paling nyaman bagi ibu dan keluarga.


Tak Sembarang Donor

Menjadi donor ASI memang tidak mudah. Selain harus melewati dua tahap seleksi. Ada berbagai persyaratan dasar yang harus dipenuhi. Menurut Mia Sutanto (Ketua AIMI), “Biasanya ibu yang diperbolehkan mendonor adalah yang menghasilkan minimal ASI 2 – 3 liter per hari. Oleh karena itu, tidak semua ibu diperbolehkan menjadi donor. Seleksi terhadap donor juga dilakukan 3 bulan sekali. Setelah 6 bulan, pendonor tidak direkomendasikan lagi karena jumlah ASI yang dihasilkan akan mulai berkurang.”
Beberapa syarat kesehatan ibu donor adalah:
  • Tidak sedang hamil.
  • ASI dalam jumlah melebihi kebutuhan bayi ibu donor.
  • Puting ibu donor tidak luka.
  • Tidak merokok.
  • Tidak minum alkohol.
  • Tidak mengonsumsi narkoba.
  • Tidak mengonsumsi kafein.
  • Tidak minum jamu atau herbal.
  • Tidak mengonsumsi obat-obatan. Atau konsumsi obat dalam pantauan dokter
  • Tidak melakukan transfusi darah dalam waktu 12 bulan terakhir.
  • Bukan vegetarian.
  • Tidak menderita HIV/AIDS.
  • Tidak menderita infeksi Hepatitis.
  • Tidak menderita TBC.

Sedangkan dari sisi undang-undang, donor ASI telah diatur dalam Peraturan pemerintah (PP) Nomor 32 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif yang menetapkan persyaratan-persyaratan khusus untuk para pendonor dan penerima donor ASI, yaitu;

  • Donor ASI dilakukan sesuai permintaan ibu kandung atau keluarga bayi yang bersangkutan.
  • Identitas, agama, dan alamat pendonor ASI diketahui jelas oleh ibu kandung atau keluarga bayi penerima ASI.
  • Mendapat persetujuan pendonor ASI setelah mengetahui identitas bayi yang diberi ASI.
  • Pendonor ASI dalam kondisi kesehatan baik dan tidak mempunyai indikasi medis,
  • ASI tidak diperjualbelikan.

Pelanggaran terhadap ketentuan ini akan dikenai sanksi, walaupun sanksi yang diberikan masih belum jelas karena masih dalam pembahasan oleh pemerintah.

Photo courtesy of www.whattoexpect.com

Sebelum menjadi Feature writer, saya bekerja di World Vision Indonesia dan ditempatkan di Nusa Tenggara Timur. Saya menikmati bekerja bersama dengan masyarakat terutama yang fokus di bidang kesehatan Ibu dan anak. Saya juga menyukai traveling ke daerah pendalaman. Passion saya ingin membantu mewujudkan perempuan Indonesia yang sehat dan cerdas.

Related Posts

Comments :