Bagaimana Cara Menghentikan Kebiasaan Ngempeng pada Si Kecil?

Para ahli setuju bahwa kebiasaan ngempeng dapat menenangkan kondisi Si Kecil. Namun, para dokter gigi juga merekomendasikan para orangtua untuk membatasi penggunaan dot ketika Si Kecil sudah berusia 2 tahun, dan benar-benar menyapihnya ketika mereka memasuki usia 4 tahun untuk mengindari masalah gigi pada anak. Nyatanya, meminta Si Kecil berpisah dengan dot-nya akan sulit karena, jika diibaratkan, dot adalah cinta pertama bagi mereka.

Oleh sebab itu, Mark L. Brenner, penulis buku Pacifiers, Blankets, Bottles & Thumbs: What Every Parent Should Know About Stopping and Starting, memberikan metode The Three-Day Plan sebagai langkah untuk menghentikan kebiasaan ngempeng pada Si Kecil:

Hari Pertama

Mam, saat pagi hari atau menjelang tidur, katakan pada Si Kecil jika Mam ingin melihat mereka melakukan sesuatu yang membuatnya tumbuh dewasa. Katakan pada mereka jika mengucapkan perpisahan pada dot kesayangannya, dalam tiga hari mendatang, adalah sebuah ide yang bagus. Katakan jika mereka mampu menjalaninya, dan Mam akan bekerjasama dengannya. Lakukan pembicaraan tersebut selama 30 detik, usahakan jangan terdengar seolah-olah Mam sedang meminta izin. Jika Si Kecil meresponi dengan sebuah penolakan, renungkan sebentar kemudian responi balik bahwa Mam mengerti kalau sulit dilakukan, namun ajari pelan-pelan jika semua itu dilakukan demi kebaikan Si Kecil sendiri. Dr. Brenner menjelaskan bahwa anak-anak sama seperti orang dewasa, mereka harus mempersiapkan diri secara fisik, mental, dan emosional dalam menghadapi sebuah perubahan.

Hari Kedua

Lakukan pembicaraan 30 detik tadi dua kali sehari, hanya saja jangan lupa untuk mengganti frasa “dalam tiga hari mendatang” menjadi “besok”. Jangan lakukan tawar-menawar dengan Si Kecil. Jaga nada bicara dan sikap Mam tetap penuh kasih.

Hari Ketiga

Ingatkan Si Kecil bahwa sudah tiba harinya untuk mereka mengucapkan salam perpisahan kepada dot kesayangannya. Jika Si Kecil masih protes dan menolaknya, akali dengan meminta mereka untuk mengumpulkan dot tersebut dalam satu wadah dan beritahu mereka bahwa dot yang sudah dikumpulkan akan didaur ulang dan dibuat menjadi ban atau mainan baru. Anak-anak akan memahami bahwa proses daur ulang adalah sesuatu yang baik, hal tersebut akan meredakan emosi Si Kecil ketimbang harus tahu dot mereka hanya akan berakhir di tempat sampah. Mam juga bisa jelaskan bahwa dokter akan mengumpulkan dot-dot untuk para bayi yang baru lahir, dan jika mereka mendonasikannya, mereka akan mendapatkan mainan spesial.

Setelah ini, lakukan pendekatan lainnya secara bertahap. Misalnya, ketika Si Kecil sudah terbiasa tidak menggunakan dot di dalam rumah, hilangkan peranan dot juga di luar rumah. Perlu diingat, Mam tidak perlu memberikan penjelasan berlebih mengapa Mam melakukan hal tersebut. “Orangtua seringkali melakukan over-talk kepada anak-anak mereka,” jelas Dr. Richard Dowell, seorang neuropsikolog pediatrik di Evangelical Community Hospital, Pennsylvania.

Mam juga harus kuatkan hati Anda selama satu hingga lima malam ke depan. Jika Si Kecil terus menangis, berteriak, dan merengek meminta dot mereka kembali, berempatilah, tetapi jangan kabulkan permintaan mereka. Memberikan kembali dot mereka setelah melakukan hal-hal tersebut hanya membuatnya sadar bahwa menangis, berteriak, dan merengek dapat membawanya kembali pada dot kesayangannya, dan segala sesuatu yang diinginkannya. Namun banyak anak-anak yang akan menyerahkan dot mereka secara sukarela ketika mereka memasuki usia 3 hingga 4 tahun.

Dari Ibu dan Mama untuk Ibu dan Mama. Sahabat terbaik yang mendengarkan, mengerti dan membantu ibu dan mama seluas Indonesia. Mari bergabung dengan komunitas kami!

Related Posts

Comments :