Si Kecil Tidur Mengorok Ketika Tidur, Berbahaya Kah?

Mam, tidur mengorok biasanya hanya terjadi pada bapak-bapak tua yang lelah karena seharian bekerja. Namun bila hal tersebut juga dialami oleh Si Kecil, perlukah Mam khawatir?

Pada dasarnya, seseorang akan tidur mengorok ketika saluran napas mereka tersumbat. Sumbatan tersebut akan membatasi aliran udara yang keluar melalui hidung dan tenggorokan, menimbulkan getaran yang kemudian terdengar seperti dengkuran. DIkutip dari Kompas.com, tidur mengorok terbagi menjadi dua jenis kelompok: mendengkur sesekali (frekuensi mendengkur (< 3 kali per minggu) dan sering mendengkur (≥ 3 kali seminggu). Jika seseorang sudah sering tidur mengorok, maka orang tersebut dapat mengalami obstructive sleep apnea syndrome (OSAS), atau kumpulan gejala akibat adanya sumbatan parsial pada saluran napas bagian atas.

Dr. Kenny Pang, dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) di Asia Sleep Centre, mengatakan bahwa Si Kecil akan cenderung tidur mengorok ketika mereka berusia 1-5 tahun. Penyebabnya bermacam-macam, ada yang bisa dikaitkan dengan infeksi pernafasan atau karena kondisi genetik, seperti rahang yang kecil atau septum hidung yang menyimpang.

Rahang manusia pada umumnya terdiri dari rahang atas (maxilla) dan rahang bawah (mandible) yang bertumpuk secara selaras. Namun bagi orang-orang yang memiliki rahang kecil (retrognathia), rahang bawah mereka cenderung berada posisi lebih belakang dibanding rahang atas. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh faktor genetik, namun bisa juga disebabkan oleh trauma rahang pada awal perkembangan Si Kecil. Karena posisi rahang yang tidak sempurna inilah maka posisi lidah juga berada sedikit miring ke belakang, menghalangi saluran udara, dan menyebabkan suara dengkuran ketika tidur.

Sebagai solusi, para Mam biasanya melakukan perawatan orthodontic dengan memasangkan Si Kecil tutup kepala khusus untuk memperlambat pertumbuhan rahang yang tidak tumbuh dengan benar, dan bisa menyelaraskan kedua bagian. Namun itu pun tergantung pada tingkat keparahan kondisi. Jika ketidakselarasan pada rahan terlalu parah, operasi lanjutan mungkin diperlukan untuk “memindahkan” rahang yang lain ke arah luar.

Sementara septum hidung adalah tulang dan tulang rawan yang membelah bagian dalam hidung seseorang menjadi dua. Pada beberapa kondisi, septum hidung ini justru tumbuh bengkok atau berkembang pada posisi yang salah. Hal inila yang kemudian menyebabkan saluran pernapasan tidak memiliki ukuran yang sama dan mempengaruhi aliran udara ke dalam sistem pernafasannya.

Untuk memperbaiki bentuk septum hidung yang menyimpang, konsumsi obat sudah cukup membantu. Namun untuk beberapa kondisi, dokter spesialis akan menyarankan Si Kecil menjalani prosedur pembedahan (septoplasty) untuk memperbaiki septum yang bengkok dan saluran pernapasan.

Mam, orang dulu sering mengatakan bahwa “yang tidur sampai ngorok berarti tidur nyenyak karena kecapaian.” Padahal, pernyataan tersebut tidaklah benar. Mengorok justru seringkali menyebabkan tidur Si Kecil terganggu. Akibatnya, Ia mungkin mengalami perubahan perilaku di siang hari, seperti: tampak murung, lesu, dan tidak bisa fokus pada pelajaran di sekolah. Oleh karena itu, Dr. Pang menekankan bahwa Mam harus segera memeriksakan Si Kecil pada dokter anak atau spesialis THT ketika Si Kecil mulai tidur mengorok.

Baca juga : 

Mona Ratuliu: “Dukungan Lingkungan Sangat Penting Saat Pemberian ASI Eksklusif.”

Dari Ibu dan Mama untuk Ibu dan Mama. Sahabat terbaik yang mendengarkan, mengerti dan membantu ibu dan mama seluas Indonesia. Mari bergabung dengan komunitas kami!

Related Posts

Comments :