Sunat perempuan? Mungkin hal ini terdengar aneh di telinga. Namun begitulah adanya. Tak hanya laki-laki, sunat juga dilakukan pada perempuan. Sunat pada perempuan sebenarnya masih menimbulkan pro dan kontra.
Jika sunat pada laki-laki dilakukan pada bagian ujung kemaluan, maka pada wanita hal ini dilakukan dengan memotong klitorisnya. Ngeri ya, Mam? Oleh sebab itu, sunat pada perempuan masih menimbulkan pro dan kontra. Bahkan badan kesehatan dunia WHO menggolongkan sunat perempuan sebagai mutilasi genital perempuan (Female Genital Mutilation).
Sunat Perempuan di Indonesia
Mungkin Mam juga banyak melihat orang-orang di daerah tertentu yang masih melakukan praktek sunat pada bayi perempuan. Di dunia kedokteran sendiri, sebenarnya sunat perempuan ini tidak memiliki manfaat yang begitu signifikan. Mengenai sunat perempuan di Indonesia pemerintah sudah mengeluarkan larangan di tahun 2006. Namun kemudian di tahun 2010 pemerintah mengeluarkan lagi peraturan mengenai prosedur resmi untuk melakukan sunat perempuan. Hal ini bertujuan agar sunat yang dilakukan lebih aman.
Sebelum muncul aturan tersebut, banyak rumah sakit di Indonesia yang menyediakan layanan sunat perempuan. Namun sejak dikeluarkannya larangan tersebut, kini rumah sakit bersalin menghilangkan layanan tersebut. Di tahun 2003, hanya ada 28 persen penduduk Indonesia melakukan sunat perempuan dan itu pun dilakukan secara simbolik dengan menempelkan gunting ke bibir kemaluan atau memberi goresan kecil namun tidak sampai memotong klitoris.
Pandangan Islam Mengenai Sunat Perempuan
Tak seperti sunat pada laki-laki yang hukumnya wajib, sunat perempuan boleh dilakukan boleh tidak. Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Anak dalam Islam, ia menjelaskan bahwa kewajiban sunat untuk laki-laki dan perempuan hanya berdasarkan riwayat Imam Ahmad bin Hambal. Sedangkan kebanyakan ulama menyebutkan bahwa sunat hanya wajib untuk laki-laki sedangkan bagi perempuan hukumnya sunnah. Jadi, boleh dilakukan boleh tidak.
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan
Karena prosesnya memerlukan logam tajam, maka pastikan alat yang digunakan steril dan Mam bisa menjaga kebersihannya, ya. Karena jika tidak, bekas luka yang dihasilkan dari proses sunat tersebut akan meninggalkan infeksi. Infeksi di bagian alat kelamin cukup membahayakan, bukan? Selain itu, usahakan untuk melakukannya dengan tenaga medis yang berpengalaman, ya. Jika perlu, minta penjelasan terlebih dahulu mengenai prosedur, efek samping, dan semuanya. Perjelas apa yang Mam inginkan, apakah hanya ingin menyunat Si Kecil secara simbolik atau seluruh klitoris. Selain itu, keuntungan memilih tenaga medis yang sudah berpengalaman adalah dia akan mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, jadi Mam bisa merasa lebih tenang.
Jadi, sebelum mengambil keputusan, pikirkan baik-baik ya Mam. Pertimbangkan apa dampaknya bagi Si Kecil kelak.







30 Jan 2017
Penulis Redaksi IbuDanMama
0 Komentar