Menjadi pemimpin tidak semata-mata dituntut untuk duduk manis dan mengamati keadaan di bawah. Ada banyak kualitas yang diharapkan untuk dimiliki ketika Anda duduk di atas sana, salah satunya menjadi asertif.
Ada banyak keahlian yang wajib dimiliki oleh semua orang dengan posisi sebagai pemimpin. Namun, bagi Scott Edinger, penulis dalam Harvard Business Review, menjadi asertif adalah yang terpenting. Menurut pandangannya, sifat yang asertif akan membuat banyak skill yang patut dimiliki oleh seorang pemimpin berkembang.
Asertif, sampai pada batas tertentu sangatlah positif. Menjadi seseorang yang asertif berarti memiliki inisiatif. Seseorang yang asertif, mampu membuat orang lain tahu apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka rasa pantas, dan bagaimana mereka mau diperlakukan. Menjadi asertif berarti mampu menjelaskan posisi dirinya, tahu betul apa yang dibutuhkannya, dan tak segan untuk menolak jika itu dirasa tidak sesuai serta mampu untuk menerima penolakan dengan baik.
Sekilas, nampak terlihat bahwa menjadi asertif itu mudah walaupun kenyataan di lapangan tidak berjalan demikian. Tidak jarang ketika sifat asertif ini menjadi berlebihan, yang justru muncul adalah sifat agresif yang berlebihan atau tindakan-tindakan emosional yang justru tidak menyehatkan. Padahal menjadi asertif—dalam kadar yang sehat—mampu mensukseskan banyak hal yang sering gagal dilakukan oleh pemimpin, seperti berkomunikasi dengan efektif, melakukan perubahan, dan membuat lingkungan kerja yang kondusif.
Seorang pemimpin yang asertif, akan membuat ketiga hal yang disebutkan di atas berjalan dengan lancar. Karakter asertifnya tahu persis apa yang diperlukan, kapan harus menolak, kapan harus menantang status quo, dan kapan harus tidak mendengar pendapat ataupun menolak untuk mendengar pendapat.
Beberapa alasan yang sering diutarakan untuk tidak menjadi asertif adalah tidak percaya diri, takut tidak disukai oleh orang-orang disekitarnya, dan meragukan apakah yang dilakukannya adalah sesuatu yang benar. Alasan-alasan ini, sering diutarakan oleh para pemimpin, terutama para pemimpin wanita. Sering mengalami hal seperti ini? Ingatlah, you can’t please everybody—yang terpenting adalah bagaimana Anda menjadi seorang pemimpin yang mampu mengambil keputusan yang terbaik bagi semua orang.







