Risiko Anak Kecil yang Ditinggal Orang Tua atau Keluarga Bunuh Diri

Beberapa waktu lalu, Indonesia dihebohkan dengan video live bunuh diri di Facebook dari seorang pria sekaligus Ayah yang bernama Pahinggar Indrawan. Pria malang ini berani mengakhiri hidupnya karena merasa putus asa karena ditinggal istrinya setelah 17 tahun menikah. Akibat tindakannya ini, Indra meninggalkan lima orang anak yang semuanya masih duduk di bangku sekolah. Mam, ada banyak sekali faktor yang bisa menjadi pemicu seseorang untuk bunuh diri, alasan utamanya adalah depresi, masalah ekonomi, dan bahkan putus cinta.

Mam, selain meninggalkan luka yang dalam bagi keluarga yang tinggalkan, efek bunuh diri ini juga semakin diperparah karena bisa membuat mental seseorang yang ditinggalkan tersebut terguncang. Apalagi jika keluarga yang ditinggalkan itu masih berusia anak-anak.  Mam, sebagai informasi, berikut risiko pada anak yang ditinggal orang tua atau keluarga yang bunuh diri.

Meninggalkan Dampak Traumatis pada Anak

Menerima kenyataan kalau seseorang yang dicintai sudah meninggal karena bunuh diri benar-benar bisa meninggalkan dampak traumatis di diri seseorang. Selain merasakan perasaan seperti itu, dampak kematian akibat bunuh diri juga bisa menimbulkan perasaan tambahan seperti:

  • Rasa bersalah yang ekstrem karena tidak bisa mencegah tindakan bunuh diri
  • Kegagalan karena orang yang mereka cintai merasa tidak dicintai dan bunuh diri
  • Marah atau benci kepada orang yang memilih untuk mengambil nyawanya sendiri
  • Bingung
  • Tertekan atas masalah yang belum terselesaikan.

Melukai Kesehatan Mental Dirinya Sendiri

Sayangnya teman-teman atau anggota keluarga yang memutuskan untuk bunuh diri dan menghabisi nyawanya sendiri berarti mereka melukai kesehatan mentalnya sendiri. Pada sebuah penelitian yang dilakukan di Kanada, orang tua yang kehilangan anak karena bunuh diri biasanya memiliki risiko depresi lebih tinggi, mengalami permasalahan fisik, dan kemungkinan berpenghasilan rendah. Kecemasan dan perceraian juga bisa menjadi salah satu efek yang terjadi setelah adanya tindakan bunuh diri seorang anak.

Sedangkan pada penelitian lain menunjukkan kalau anak-anak dari orang tua yang bunuh diri berada pada posisi peningkatan risiko yang signifikan untuk membuat dirinya untuk bunuh diri pula. Semakin muda usia anak yang ditinggal oleh orang tua yang bunuh diri, maka semakin besar pula risiko untuk dirinya bunuh diri.

Stigma dan Efek Bunuh Diri di Keluarga dan Teman-teman

Ketika seseorang meninggal karena manusia adalah makhluk sosial, maka secara otomatis orang-orang akan memberikan rasa empati dan kasih sayang. Namun, ketika penyebab meninggalnya adalah bunuh diri, maka stigma yang terjadi di sekitar lingkungan tersebut akan berbeda dari biasanya. Terkadang korban tinggal bunuh diri biasanya akan merasa takut untuk berbicara mengenai kejadian bunuh diri terutama karena takut mendapatkan penghakiman dan penghukuman.

Para korban akan merasa lebih takut karena berpikir kalau merekalah yang menyebabkan orang tuanya meninggal akibat bunuh diri atau disalahkan oleh lingkungannya sendiri. Tidak hanya itu, mereka juga cenderung mengurung diri dan bisa mengisolasi dirinya dari lingkungan secara ekstrem.

Dukungan untuk Anak Korban Tinggal Bunuh Diri

Ketika seseorang anak ditinggal oleh orang yang dicintainya karena bunuh diri, maka efek yang terjadi pun sangat mengganggu dan merugikan kehidupan dan kesehatan anak Anda. Mengingat mereka harus menghadapi situasi yang sangat sulit, berarti mereka harus mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitarnya. Mereka membutuhkan perhatian lebih dari lingkungannya untuk melanjutkan hidupnya.

Baca juga : 

7 Item Fesyen Tampil Gaya Ketika Hamil

Dari Ibu dan Mama untuk Ibu dan Mama. Sahabat terbaik yang mendengarkan, mengerti dan membantu ibu dan mama seluas Indonesia. Mari bergabung dengan komunitas kami!

Related Posts

Comments :