Bila Si Kecil Bersikap ‘Kelewatan’, Perlukah Diberi Hukuman Fisik?

Photo credit: Pexels

Terkadang Mam merasa kesal atas ulah si kecil yang ‘kelewatan’. Alhasil, hukuman untuk Si Kecil secara fisik terkadang menjadi cara yang paling sering di ambil. Alasannya, agar memberikan efek jera bagi Si Kecil. Akan tetapi, cara ini bagi sebagian besar orang dirasa kurang efektif. Lalu, bagaimana tindakan seharusnya yang perlu diambil dan apa saja efek negatif dari memberikan hukuman fisik ini? Berikut ulasannya yang perlu Mam ketahui.

Apakah hukuman fisik memberi efek jera?

Sebagian orang masih ada yang menilai dengan memberi hukuman untuk Si Kecil akan memberikan efek jera. Contoh dalam menghukum secara fisik di sini antara lain adalah memukul bokong (spanking), memukul bagian tubuh, mencubit, bahkan yang paling buruk adalah menamparnya. Berdasarkan studi dari American Academy of Paediatrics (AAP) seperti dilansir dari Kompas.com, memang memberikan hukuman secara fisik memberikan efek jera dalam jangka pendek. Namun tidak memberikan dampak positif atau efek jera di kemudian hari.

Sebaliknya, apabila hukuman fisik ini sering diberikan anak akan cenderung bersifat menjadi semakin agresif dan dapat menyerang balik. Mereka bukanya berhenti melakukan kesalahan, bahkan cenderung mengulanginya sebagai bentuk protes Mam. Si Kecil pun bisa saja mengalami trauma atas tindakan pemberian hukuman fisik bila dilakukan secara berlebihan.

Dampak negatif hukuman fisik pada anak

Selain hanya membuat efek jera dalam jangka pendek dan membuat anak semakin agresif, memberi hukuman untuk Si Kecil akan menimbulkan efek negatif. Penelitian yang dilakukan oleh Joan Durrant dan Ron Ensom di tahun 2012 seperti dikutip dari Tirto.id menyebutkan hukuman fisik terhadap si kecil bisa berpengaruh pada kesehatan mental. Selain itu, juga berpengaruh pada perkembangan kognitif mereka dan menurunkan prestasi akademik. Hal ini disebabkan karena mengurangi volume materi abu-abu dalam otak, materi inilah yang mempengaruhi kecerdasannya.

Si Kecil juga bisa menjadi mudah depresi akibat mengalami peningkatan kadar kortisol, yakni gangguan kimia dari mekanisme otak untuk mengatur stres. Cedera fisik sudah pasti dialami oleh si kecil ketika Mam melakukan hukuman fisik secara berlebihan. Tidak hanya itu, hukuman secara fisik dapat tertanam di benak Si Kecil hingga dia dewasa kelak. Dampak buruknya, bila benak Si Kecil tertanam nilai-nilai kekerasan tersebut dapat berlanjut hingga ke kehidupan keluarga. Pada akhirnya mereka cenderung melakukan kekerasan dalam rumah tangga.

Bagaimana seharusnya orang tua bertindak?

Oleh karena itulah dalam menghadapi si kecil yang ‘kelewatan’, Mam bisa melakukan cara-cara yang persuasif dan lebih mengedepankan dialog. Salah satu contoh terbaik yang bisa Mam lakukan menurut pakar AAP tersebut antara lain bila anak berusia kurang dari setahun, cara terbaiknya adalah dengan mengendongnya lalu memindahkannya ke tempat lain. Bila Si Kecil masuk usia sekolah, Mam bisa menerapkan pola time-out. Strategi ini adalah dengan menyuruh Si Kecil diam di sudut ruangan untuk memikirkan apa yang sudah dilakukannya dalam kurun waktu tertentu.

Mam juga bisa melakukan strategi lainnya dan sangat mudah dilakukan. Yakni dengan membiarkannya tidak memberikan hadiah saat berbuat salah namun tetap mengarahkannya. Cara berikutnya adalah dengan memberikannya pengertian hukum sebab-akibat, dengan cara ini Si Kecil akan lebih memahami akibat-akibat negatif yang sudah dia lakukan. Terutama bila hal tersebut merugikan orang lain.

 

Jadi, mulai saat ini sebaiknya Mam hindari ya memberi hukuman untuk Si Kecil saat dia ‘kelewatan’. Percayalah, pendekatan persuasif dan lemah lembut cukup efektif dalam mencegah mereka berbuat kesalahan yang sama ketimbang hukuman fisik yang justru membuatnya menjadi agresif.

Dari Ibu dan Mama untuk Ibu dan Mama. Sahabat terbaik yang mendengarkan, mengerti dan membantu ibu dan mama seluas Indonesia. Mari bergabung dengan komunitas kami!

Related Posts

Comments :