Mengajarkan Pentingnya Tahun Baru Islam kepada Si Kecil

Mam, Tahun Baru Islam tahun ini jatuh pada minggu ke-3 bulan September. Bagi umat non Islam, Tahun Baru Islam mungkin hanya dianggap sebagai tanggal merah biasa dimana mereka bisa libur sejenak dari urusan kantor atau sekolah. Namun bagi seorang muslim, Tahun Baru Islam tentu saja memiliki makna mendalam yang terkandung di dalamnya. Tahun Baru Islam, atau yang biasa disebut dengan Tahun Baru Hijriyah, adalah hari dimana para muslim memperingati penghijrahan Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.

Sekalipun dinamakan “tahun baru”, Tahun Baru Islam tidak memiliki sebuah tanggal tetap setiap tahunnya. Tanggalnya selalu berganti-ganti karena tahun lunar Islam sebelas atau dua belas hari lebih singkat dibanding tahun Gregorian solar, kalender yang digunakan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya.

Walaupun euforia saat Tahun Baru Islam tidak sebesar saat Idul Fitri atau Idul Adha, tetapi mengajarkan makna dan pentingnya Tahun Baru Islam kepada Si Kecil sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Berikut beberapa alasan yang mendasarinya:

  1. Mengenalkan perjuangan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam

Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah tentu saja bukan tanpa alasan. Saat Ia berdakwah di Mekkah selama ± 12 tahun, Nabi Muhammad selalu menghadapi berbagai rintangan, seperti: teror, pelecehan, dan ancaman dari kelompok-kelompok yang tidak menyukai pengajarannya. Karena itu, Allah SWT menginstruksikan Nabi Muhammad untuk hijrah ke Madinah dan menyebarkan agama Islam disana. Dari sini, Mam bisa melihat semangat perjuangan tanpa putus asa yang dibarengi oleh optimisme tinggi dari Nabi Muhammad. Sebuah karakter yang bisa Mam ajarkan kepada Si Kecil sejak dini.

  1. Mengenalkan titik awal perkembangan agama Islam

Tidak seperti saat di Mekkah, di Madinah Nabi Muhammad disambut baik oleh kaum Anshar, penduduk asli Madinah. Perkembangan agama Islam pun termasuk yang berkembang sangat pesat disana. Hanya dalam kurun waktu 8 tahun, agama Islam sudah bisa tersebar ke seluruh penjuru dunia dan pelosok bumi, keberhasilan yang diawali dari berdakwah di Madinah. Oleh sebab itu, tidak berlebihan kemudian jika peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah dianggap sebagai titik awal perkembangan agama Islam.

  1. Mengajarkan cara hidup bermasyarakat yang benar

Mam juga bisa menggunakan kaum Muhajirin dan Anshar (yang menyambut baik kedatangan Nabi Muhammad SAW dan ajaran Islam-nya) sebagai contoh untuk mengajarkan Si Kecil bagaimana hidup bermasyarakat yang baik kelak saat Ia dewasa. Dikutip dari situs web Kompasiana, para pakar sejarah menilai kaum Muhajirin dan Anshar sebagai masyarakat yang saling mengasihi, bahu-membahu, serta lebih mengutamakan kepentingan umum ketimbang kepentingan pribadi. Sebuah contoh masyarakat ideal yang patut dijadikan teladan orang banyak.

  1. Berani mencoba hal-hal baru

Sekalipun merupakan Rasuallah, Nabi Muhammad SAW tetaplah 100% manusia. Disaat Ia diinstruksikan untuk berhijrah ke sebuah tempat baru, mungkin saja ada perasaan takut dan sedih karena arus meninggalkan tanah kelahiran, sanak saudara, dan harta benda. Tetapi Nabi Muhammad menekan segala ego yang ada, dan berani melangkah untuk mencoba hal-hal baru.

Dikutip dari situs web Republika, presentase umat Islam di Indonesia mencapai angka 85% (tahun 2016). Namun, jumlah tersebut tidak akan dicapai jika Nabi Muhammad SAW tidak menuruti instruksi dari Allah SWT untuk pergi hijrah ke Madinah, titik awal dimana agama Islam tersebar merata di seluruh dunia. Oleh sebab itu, mengajarkan pentingnya Tahun Baru Islam kepada Si Kecil tidak kalah penting dari mengajarkan hari raya lain, Idul Fitri atau Idul Adha misalnya. 

 

Baca juga:

Alergi Susu Sapi Pada Anak

 

Dari Ibu dan Mama untuk Ibu dan Mama. Sahabat terbaik yang mendengarkan, mengerti dan membantu ibu dan mama seluas Indonesia. Mari bergabung dengan komunitas kami!

Related Posts

Comments :