Siapa bilang pengantin baru tidak pernah memiliki masalah? Ya, Mam, pasangan suami dan istri yang sudah lama menikah bukan satu-satunya yang mengalami masalah pernikahan. Saat pertama kali menikah, terkadang para pengantin baru ini kaget dengan pasangannya masing-masing. Mungkin ada kebiasaan kurang baik yang baru muncul pada diri pasangan sehingga pasangan lainnya susah untuk menerima hal tersebut.
Tentu masih ada masalah-masalah lain yang kerap dihadapi pengantin baru. Apa saja pemicu dari masalah-masalah tersebut? Mam bisa mengeceknya di bawah ini. Bagi yang hendak melangsungkan pernikahan, Mam bisa mengantisipasinya dari sekarang.
Fokus pada Pesta Pernikahan Saja
Sekarang, hampir semua pasangan yang akan menikah pasti mengedepankan pesta pernikahan. Memang, ketika pasangan menikah, kabar baik harus segera disebarkan. Namun, bukan berarti Mam bersama pasangan harus fokus kepada pesta pernikahan sehingga akhirnya menghabiskan banyak uang untuk pernikahan yang dilaksanakan hanya sehari.
Padahal, ketika menikah nanti, Mam tidak hanya hidup selama sehari, tetapi seumur hidup bersama pasangan Mam. Jadi, jangan terlalu fokus kepada pesta pernikahan dan buat pesta pernikahan sesuai dengan kondisi keuangan.
Berharap Pasangan Berubah
Ketika berpacaran dulu , mungkin Mam tidak akan tahu semua kebiasaan buruk pasangan. Mungkin ada pasangan yang tidurnya mendengkur, sedikit jorok, dan kebiasaan buruk lainnya. Ketika menemukan kebiasaan pasangan yang tidak baik, Mam tidak boleh berharap pasangan akan segera berubah. Selama tidak menimbulkan masalah yang cukup besar, Mam harus bisa menerima Ayah apa adanya. Terlebih, setiap orang pasti memiliki beberapa kebiasaan buruk masing-masing.
Masalah Akan Menjadi Tanggung Jawab Keluarga
Setelah menikah, setiap masalah yang Mam hadapi akan ditanggung bersama dengan keluarga. Karenanya, jangan sampai Mam memilih untuk lebih banyak diam atau malah tidak berbicara kepada siapa-siapa ketika memiliki masalah. Mulailah menjalin komunikasi yang lebih intens dengan pasangan agar Mam terbiasa untuk saling berkomunikasi. Alangkah baiknya jika ada masalah, Mam bisa langsung menyelesaikan hari itu juga. Jangan biarkan masalah tersebut berlarut-larut.
Tradisi Keluarga
Namanya juga tradisi, tentu harus terus dijaga kan, Mam? Namun, ada kalanya tradisi keluarga malah menjadi bumerang bagi Mam dan pasangan. Misalnya, dalam tradisi keluarga seorang Ayah harus bekerja dan Mam di rumah sebagai ibu rumah tangga. Namun, pada beberapa kasus, terkadang Mam lah yang harus mencari nafkah sehingga secara tidak langsung Mam juga berperan sebagai kepala keluarga walaupun harus mendobrak tradisi keluarga.
Bersikap Seolah Mam Masih Single
Ketika sudah menikah dan memiliki pasangan, bersikaplah seadanya dan sewajarnya. Jangan mengeluarkan sikap seolah-olah Mam belum berpasangan. Misalnya, Mam selalu pulang malam karena lebih memilih untuk berkumpul bersama teman-teman. Bukannya hal tersebut tidak boleh dilakukan, tetapi Mam sudah seharusnya meletakkan keluarga sebagai prioritas utama dalam hidup. Jangan lupa untuk selalu berkomunikasi dengan pasangan demi menciptakan hubungan yang sehat.
Meski usia pernikahan masih dikatakan belia, bukan berarti masalah tidak akan menghampiri. Beberapa contoh di atas dapat membantu Mam untuk mengantisipasi datangnya masalah tersebut. Semoga hubungan Mam dan Ayah selalu sehat dan bahagia, ya.







