Ditengah kesibukan Anda, terkadang urusan makan menjadi hal yang terlupakan. Kalau sudah begini, makanan instan atau cepat saji menjadi pilihan. Padahal tahukah, Mam, bahwa makanan instan kurang baik untuk kesehatan?
Apakah makanan instan dan makanan cepat saji itu berbahaya?
Makanan instan dan cepat saji ternyata memiliki dampak kurang baik bagi kesehatan. Makanan cepat saji, frozen foods, mie instan, atau makanan ringan (snack) dalam kemasan, banyak dijumpai dan digemari di kota besar karena cepat dan mudah untuk kehidupan kota yang stres dan serba cepat. Namun, jika mengonsumsi makan tersebut terlalu sering dapat mengakibatkan penurunan kualitas kesehatan jangka panjang, terutama pada kesehatan ginjal.
Makanan instan berbahaya bagi ginjal
Sebagian besar makanan olahan mengandung fosfor, pemanis, perasa buatan dan garam. Fosfor adalah mineral penting yang ditemukan dalam konsentrasi terbesar kedua di tubuh manusia, mampu memperburuk masalah ginjal bila dikonsumsi dalam jumlah yang besar. Bagi mereka yang mengalami gangguan ginjal kronis, fosfor berbahaya dan jika itu terakumulasi dalam tubuh, dapat menyebabkan kerusakan parah. Penderita penyakit ginjal memiliki retensi fosfor yang tinggi di dalamnya, menyebabkan peningkatan ukuran kelenjar paratiroid yang mengontrol jumlah kalsium dalam darah dan tulang. Untuk meningkatkan kalsium dalam darah, tubuh menyerap kalsium dari tulang. Sodium dalam makanan kemasan juga dapat menyebabkan retensi air dan menyebabkan lebih banyak tekanan pada ginjal. Terlalu banyak sodium, fosfor dan retensi air dapat mengancam kehidupan untuk penderita penyakit ginjal.
Bahan-bahan dalam makanan kemasan tertulis berdasarkan jumlahnya di dalam makanan. Sehingga bahan utama (terbanyak) akan berada pada posisi paling atas dan yang jumlahnya sedikit akan berada pada posisi paling bawah. Jika menderita penyakit ginjal, Anda perlu membatasi natrium, kalium dan fosfor dalam diet anda. Beri perhatian pada jumlah saji, makanan cepat saji menjelaskan bahan-bahan berdasarkan pada jumlah saji. Jadi, Anda bisa melihat fosfor dan natrium dalam daftar bahan. Chinese food, daging yang diawetkan, dan acar memiliki natrium yang tinggi, sedangkan fosfor biasanya ditemukan pada produk susu, cola, daging dan kacang kemasan.
Kita mungkin tidak dapat secara total meninggalkan natrium dan fosfor karena zat-zat tersebut terdapat di sebagian besar makanan yang kita makan; terutama fosfor yang terkandung di dalam sereal, sayur-sayuran, daging, kacang dan susu. Jadi, berapa banyak fosfor dan natrium yang dapat kita konsumsi?
- Fosfor yang dibutuhkan standarnya, pada orang dewasa 700 mg dan jika asupan lebih dari batas ini, dapat menjadi berbahaya bagi tubuh.
- Untuk sodium, rata-rata konsumsi pada orang dewasa harus 1600 mg per hari (4 gram garam sama dengan 1,6 gram sodium)
- Sup cepat saji cenderung memiliki monosodium glutamate dan pengawet seperti natrium benzoat atau natrium sitrat.
- Bagi penderita penyakit ginjal disarankan untuk membaca label nutrisi dengan hati-hati dan mengurangi konsumsi makan instan sebisa mungkin. Mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran dapat membantu mengurangi tidak meluasnya penyakit yang diderita.
Sebaiknya Anda membaca terlebih dulu label nutrisi dan tanggal kadaluarsa pada setiap makanan kemasan. Beberapa hal yang penting diperhatikan saat membaca label nutrisi pada tiap kemasan makanan instan, seperti:
- Nilai saji
Nilai saji adalah jumlah porsi yang dapat dimakan per orang. - Persen Harian Nilai
Membandingkan berapa banyak kandungan gizi saji yang terkandung dalam makanan dengan kebutuhan sehari-hari. - Lemak jenuh
Sebaiknya lemak jenuh dikonsumsi tidak lebih dari 20% per hari. - Transfat
Idealnya dikonsumsi 0. - Sodium dan Potasium
Dikonsumsi antara 0 dan15%. - Serat pangan
Fiber membantu tubuh mencerna makanan yang dimakan, karena itu ini menjadi sangat penting.
Semoga bermanfaat.
Baca juga:







