Mimisan yang terjadi pada anak kerap membuat para orangtua khawatir. Terlebih jika darah yang keluar sulit dihentikan.
Mimisan, atau dalam bahasa medis disebut Epistaksis ini memang kerap dialami anak-anak. Darah segar yang keluar dari hidung si Kecil terjadi karena ada pembuluh darah di hidung yang robek atau pecah. Mimisan bukanlah sebuah penyakit berbahaya asalkan anak tetap terlihat sehat dan aktif. Oleh karenanya, Anda tidak perlu khawatir secara berlebihan, karena umumnya mimisan akan mereda dengan sendirinya dan dapat diatasi sendiri di rumah.
Apa penyebabnya? Mimisan bisa terjadi karena adanya perbedaan suhu udara yang mencolok, perbedaan tekanan udara yang mendadak, alergi, iritasi terhadap gas, pilek, terkena kuku saat membersihkan kotoran hidung, kelelahan, berada di tempat yang suhu udaranya yang cukup panas, dan demam tinggi. Sebagai contoh, saat anak bermain bersama teman-temannya di luar rumah pada siang hari saat hari sedang panas-panasnya, kemudian ia pulang ke rumah dan langsung meng-adem-kan dirinya di ruangan yang bersuhu dingin (AC). Perbedaan suhu udara yang drastis ini (dari panas ke dingin) dapat menyebabkan si Kecil mimisan.
Mimisan yang dialami anak-anak akan sembuh dengan sendirinya seiring bertambahnya usia mereka. Semakin bertambahnya usia anak, selaput lendir di hidung dan pembuluh darahnya akan semakin kuat sehingga tidak mudah mengalami pendarahan.
Bagaimana menghadapi anak yang mengalami mimisan?
1. Tenang.
Sikap tenang Anda akan memudahkan Anda dalam menangani pendarahan yang dialami si Kecil. Bersikap panik justru akan membuat Anda susah untuk memikirkan apa yang harus dilakukan. Selain itu, jika Anda panik, kemungkinan si Kecil juga akan ikut panik. Dengan melihat Anda yang tenang dalam mengobati pendarahannya, anak pun akan merasa nyaman dan tidak ketakutan.
2. Miringkan sedikit kepala ke depan.
Mintalah si Kecil untuk duduk, kemudian dengan perlahan memiringkan sedikit kepalanya ke arah depan (bukan miring kebelakang atau mendongak karena darah bisa tertelan). Hindari posisi berbaring atau bahkan menundukkan kepalanya, karena akan membuat perdarahan semakin parah.
3. Menekan bagian cuping hidung.
Anda bisa menekan bagian cuping hidung dengan ibu jari dan telunjuk, tapi katakan padanya untuk membuka sedikit mulutnya saat Anda menekan cuping hidungnya sehingga si Kecil tetap bisa bernafas. Tekan cuping hidungnya dengan lembut. Tekan selama 3 hingga 5 menit, lalu lepas secara perlahan-lahan. Tunggu beberapa saat, bila darah masih mengalir, ulangi sekali lagi. Upayakan untuk tidak mengubah posisi penekanan.
4. Jangan biarkan si Kecil mengorek-orek hidungnya.
Anak-anak di usia balita memang terkadang tak bisa diam. Baru saja darah berhenti mengalir dari hidungnya, ia sudah kembali menyentuh-nyentuh hidungnya, atau mengorek-ngorek hidungnya, atau bermain meniup udara dengan hidung. Tindakan tersebut bisa membuat pendarahan terjadi kembali.
5. Hindari aktivitas fisik.
Anak yang baru saja mengalami mimisan, sebaiknya tidak bermain atau beraktivitas fisik terlebih dulu, seperti lompat-lompat, berlari-lari, main sepakbola, dan sebagainya. Aktivitas seperti ini bisa memicu mimisan terjadi kembali. Sebaiknya si Kecil beristirahat terlebih dulu hingga mimisannya benar-benar reda.
Masalah mimisan ini umumnya tidak berbahaya, namun ada beberapa kasus mimisan yang harus diperhatikan, yaitu Leukimia. Segera bawa si Kecil ke dokter apabila mimisan yang dialami si Kecil terjadi dengan intensitas waktu yang sering atau cukup lama, pendarahan yang terlalu banyak, sering mimisan setelah minum obat, dan anak terlihat pucat.
Tips:
Bila Anda memiliki tanaman daun sirih di rumah, Anda bisa memanfaatkannya sebagai pengobatan tradisional dalam membantu mengatasi masalah mimisan ini. Caranya: petik daun sirih, lalu cuci hingga bersih. Setelah itu, gulung dengan ukuran lubang hidung si Kecil dan sumpalkan pada hidungnya kira-kira selama 15 menit (satu persatu secara bergantian).
Semoga bermanfaat…







24 Apr 2014
Penulis Dewi Novianingsih
0 Komentar











