Kehadiran Si Kecil di tengah-tengah kebahagiaan keluarga rasanya memang sangat menyenangkan, apalagi pengalaman menjadi seorang ibu baru. Namun, kesenangan itu harus berakhir karena pekerjaan yang telah menanti, khususnya bagi Mam yang masih terikat dengan kontrak kerja. Selama beberapa bulan cuti hamil dan melahirkan, kini saatnya untuk kembali beraktivitas.
Kebanyakan wanita setelah cuti hamil merasa malas untuk berangkat ke kantor. Ini karena mereka telah lama tidak melakukan pekerjaan tersebut, melainkan hanya mengurus bayi. Mungkin Mam adalah salah satu dari sekian banyak wanita pekerja yang merasa kurang bersemangat untuk kembali bekerja. Bila iya, berikut ini adalah beberapa tips kembali bekerja setelah cuti melahirkan yang dapat Mam terapkan di kehidupan sehari-hari.
Buatlah Tujuan yang Realistis
Wanita sering kali mendapati diri mereka gagal karena membuat tujuan yang tidak realistis. Ketika Mam ingin kembali bekerja dengan harapan agar mendapat promosi jabatan yang besar di tahun depan, hal tersebut mungkin saja mustahil atau tidak dapat dilakukan. Kenyataan yang terjadi Mam akan lelah, stres, mudah lupa, dan bahkan sering melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak penting. Hilangkan keinginan untuk jadi sempurna dan rayakan kemenangan kecil Mam.
Dulu memang Mam punya kesempatan untuk bekerja lebih keras dengan hanya tidur selama tiga jam semalam tanpa merasa lelah. Sekarang, telah ada Si Kecil yang butuh perhatian khusus dari Mam. Tentu hal ini akan membuat Mam semakin lelah. Sebaiknya atur porsi yang tepat antara bekerja dan mengasuh anak. Setidaknya, kembali bersemangat untuk bekerja dapat menjadi tujuan utama Mam.
Rencanakan Jauh-jauh Hari
Merencanakan kembalinya Mam untuk bekerja sejak jauh-jauh hari akan membantu Mam kembali dengan mulus. Berminggu-minggu sebelum kembali bekerja, rencanakan dan persiapkan sebaik mungkin. Cobalah untuk mengatur waktu tidur Si Kecil dalam waktu yang teratur dan menjadwal waktu makannya. Tuliskan aktivitas-aktivitas tersebut dalam secarik kertas dan buat salinannya untuk jadi pedoman bagi pengasuh atau babysitter Si Kecil.
Mungkin Mam akan merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan jadwal baru tersebut. Bila Mam masih memberikan ASI dan berencana untuk tetap memberikannya meski telah kembali bekerja, pompa dan bekukan ASI untuk menyiapkan pasokannya. Selain itu, perkenalkan Si Kecil dengan pengasuhnya jauh sebelum Mam mulai bekerja.
Persiapkan Hal-hal yang Mungkin Jadi Masalah
Segala hal pasti tidak berjalan sesuai rencana, sesempurna apapun rencana tersebut. Maka dari itu, persiapkan pula hal-hal yang mungkin jadi masalah ketika meninggalkan Si Kecil sendiri dengan babysitter, mulai dari pakaian ganti hingga mainan kesukaannya yang dapat digunakan ketika Si Kecil rewel. Atau mungkin rencana cadangan apabila babysitter tidak datang ke rumah dengan mencari tempat penitipan anak yang ada di dekat kantor. Hal-hal detail yang mungkin akan jadi masalah besar dan mengganggu pekerjaan Mam harus dipikirkan sebelum mulai bekerja.
Berbicaralah dengan Atasan Mam
Mam dan atasan harus punya pemahaman satu sama lain tentang kembalinya Mam bekerja. Tanyakan kepada atasan Mam mengenai tanggung jawab pekerjaan yang dibebankan kemudian kemukakan apabila ada tanggung jawab pekerjaan yang tidak mungkin dapat dikerjakan oleh Mam. Selain itu, tanyakan pula dalam tiga bulan terakhir apakah ada perubahan organisasi, perubahan kepemimpinan, atau isu-isu lain yang mengubah pola bekerja Mam.
Bila Mam butuh jam kerja yang fleksibel, buatlah perjanjian yang sama-sama menguntungkan bagi Mam dan atasan kemudian diskusikanlah. Intinya adalah bagaimana Mam dan atasan sama-sama mendapatkan apa yang dibutuhkan, Mam mendapat waktu yang lebih fleksibel dan atasan yang dapat tenaga kerja berpengalanan seperti Mam.
Mungkin Mam masih mengandalkan ASI untuk asupan gizi Si Kecil. Cari tahu juga apakah ada ruangan khusus yang dapat Mam gunakan untuk memompa ASI sebagai stok agar susu tidak terbuang sia-sia begitu saja.
Itulah beberapa tips untuk Mam yang ingin kembali bekerja setelah melahirkan. Bagaimana juga, tanggung jawab perhatian Si Kecil tidak boleh kurang atau lebih dari tanggung jawab pekerjaan. Maka dari itu, atur sebaik mungkin agar tidak terjadi ketimpangan. Semangat ya, Mam!







