Normalkah Bila Anak Sering Tantrum?

Pernahkah ibu dan mama dipermalukan oleh balitanya ketika sedang berada di tempat umum gara-gara mengamuk minta dibelikan sesuatu? Tapi, ternyata gejala tantrum seperti ini normal, loh terjadi pada balita.

Ibu dan mama pernah menghadapi balitanya yang tiba-tiba mengamuk di sebuah pusat perbelanjaan karena minta dibelikan sesuatu? Hal ini pasti sangat membuat stres, bukan? Pemandangan yang tidak enak dilihat seperti ini bisa saja disaksikan oleh puluhan pasang mata yang berlalu lalang di sepanjang pusat perbelanjaan tersebut. Akibatnya ibu dan mama malah makin bingung harus melakukan tindakan apa.

Gejala yang sering mucul secara tiba-tiba pada anak-anak ini sebenarnya bentuk amarah yang disebut sebagai tantrum, yang UMUM terjadi pada anak-anak prasekolah, dimana ekspresi akan apa yang ada di dalam hati dan pikiran ditunjukkan melalui kemarahan.

Cara mewujudkannya beragam, ada yang mengamuk dengan berbaring di lantai, menendang-nendang pintu, dan bahkan melakukan sesuatu yang ekstrim seperti menahan nafas atau sesekali membenturkan kepala ke tembok. Namun, perilaku ini sebenarnya NORMAL ketika menimpa BALITA dan terjadi secara alami yang disebabkan oleh ketidakmampuan mereka dalam menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan rasa frustasinya. Hanya saja orang tua harus mencari solusi bagaimana menenangkan anak yang sedang tantrum, sehingga ia tidak melukai dirinya sendiri.

Tantrum biasanya terjadi pada pada anak usia dua hingga tiga tahun ketika kesadaran diri mereka mulai terbentuk. Mereka sudah bisa memahami “Aku” dan “Keinginan aku”, namun masih terlalu dini untuk mengetahui bagaimana caranya memenuhi keinginan mereka tersebut. Alhasil, terciptalah tantrum sebagai hasil dari energi tinggi mereka dengan kemampuan yang rendah dalam menggunakan kata-kata agar keinginan mereka terpenuhi.

Terdapat banyak penyebab timbulnya amarah pada anak-anak. Beberapa dipicu oleh masalah keluarga, seperti: penerapan aturan disiplin di rumah yang tidak konsisten, orang tua yang terlalu protektif atau lalai, kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua, dan lain sebagainya. Namun, pada dasarnya semua anak dari waktu ke waktu pasti pernah menunjukkan gejala merengek, mengeluh, berpendapat, menolak, memukul, berteriak, memukul, berlari, dan bahkan menentang guru atau orang tua.

R.J. Fetsch and B. Jacobson dari Colorado State University Extension merumuskan 4 fakta seputar terjadinya tantrum pada anak, di antaranya:

  • Tantrum biasanya muncul pada anak usia 2 atau 3 tahun dan akan mulai menurun saat memasuki umur 4 tahun.
  • 23 sampai 83 persen anak berusia 2 hingga 4 tahun pasti pernah memiliki amarah, setidaknya sekali.
  • Hal yang terpenting untuk menghadapi tantrum pada anak adalah bagaimana cara orang tua untuk merespon anak ketika sedang mengamuk.
  • Setiap orang tua harus belajar bagaimana caranya menenangkan diri, membuat aturan yang jelas, memberikan pujian yang wajar, dan mengajarkan empati pada anak.

Terlahir dari rahim seorang ibu yang sangat luar biasa dalam membesarkan dan menjaga buah hatinya telah menginspirasi saya untuk menularkan semangat hebat sosok wanita tersebut dalam bentuk tulisan yang diharapkan dapat membantu para ibu dan mama dalam merawat dan memelihara buah hati tercinta.

Related Posts

Comments :