Anak Anda mengalami kesulitan dalam membaca? Bisa jadi ia mengalami disleksia. Memang tidak ada anak yang terlahir dalam keadaan sudah bisa membaca, kita mampu membaca karena belajar. Berbeda halnya dengan berbicara, setiap anak berbicara tanpa harus belajar berbicara, otak memang didesain untuk membuat manusia dapat berbicara secara otomatis.
Disleksia bukanlah sebuah penyakit dan gejala yang ditimbulkan pada setiap anak berbeda. Ada yang bermasalah dengan membaca dan mengeja, ada pula yang kesulitan dalam menulis atau membedakan kiri dan kanan. Anak dengan disleksia juga bisa bermasalah dalam kemampuan berbahasa yang kompleks seperti tata bahasa, kemampuan memahami tulisan dan kemampuan menulis.
Disleksia juga dapat membuat anak sulit mengekspresikan pendapatnya, anak akan merasa sulit menggunakan kosakata dan menyusun ide atau pikiran dalam sebuah percakapan. Ada pula yang merasa kesulitan memahami pesan yang orang lain sampaikan padanya. Hal ini bukan karena masalah pendengaran, melainkan masalah pada pengolahan informasi verbal.
Disleksia dapat memberikan dampak yang besar bagi diri anak. Jika dibiarkan, maka anak akan frustasi dengan belajar dan ia akan cenderung kehilangan motivasi untuk melanjutkan sekolah. Oleh karena itu, Anda sebagai orang tua hendaknya selalu memantau perkembangan anak, jangan sampai Anda terlambat menyadari bahwa anak Anda mengalami disleksia. Adapun tanda-tanda atau gejala dari disleksia sebagai berikut:
- Kesulitan mengenali huruf atau mengejanya
- Kesulitan membuat pekerjaan tertulis secara terstruktur misalnya essay
- Huruf tertukar, misalnya b tertukar dengan d, p tertukar dengan q, m tertukar dengan w, dan s tertukar dengan z.
- Daya ingat jangka pendek buruk
- Kesulitan memahami kalimat yang dibaca maupun yang didengar
- Tulisan tangan buruk
- Mengalami kesulitan mempelajari tulisan tegak bersambung
- Ketika mendengarkan sesuatu, rentang perhatiannya pendek
- Kesulitan dalam mengingat kata-kata
- Sulit dalam mengingat nama-nama
- Mengalami kesulitan dalam mengerjakan PR
- Sulit memahami konsep waktu
- Sulit dalam membedakan huruf vokal dan konsonan
- Kesulitan membedakan konsep alfabet dan simbol
- Kesulitan dalam mengingat rutinitas aktivitas sehari-hari
- Kesulitan membedakan arah (kiri dan kanan)
- Membaca dengan lambat dan terputus-putus
- Menghilangkan atau salah dalam membaca kata penghubung, seperti “di”, “ke”, “pada”.
- Mengabaikan kata awalan pada waktu membaca, misalnya “menulis” dibaca “tulis”.
- Tidak mampu membaca atau menyebutkan kata-kata yang tidak pernah dijumpai sebelumnya
- Kata-kata tertukar, misalnya dia-ada, sama-masa, lagu-gula, batu-buta, tanam-taman, dapat-padat, mana-nama, dsb.
Jika Anda menemukan tanda-tanda tersebut pada anak Anda, maka ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan sebagai berikut:
1. Dampingi anak belajar
Orang tua dan guru di sekolah hendaknya senantiasa mengawasi atau mendampingi anak saat mengerjakan tugas atau diberikan tugas, misalnya ketika guru meminta anak membuka halaman 15, pastikan anak tidak tertukar dengan membuka halaman lain, misalnya halaman 50. Anak juga sebaiknya duduk di barisan terdepan agar guru mudah mengawasinya.
2. Latih anak menulis tegak bersambung
Melatih anak menulis tegak bersambung sambil memperhatikan cara anak duduk dan memegang pensilnya. Tulisan tegak bersambung memudahkan anak membedakan huruf yang hampir sama, seperti b dan d. Anak harus diperlihatkan terlebih dahulu cara menulis huruf tegak bersambung karena kemahiran menulis huruf tersebut tidak diperoleh begitu saja. Penulisan huruf yang benar sangat penting dan anak sebaiknya dilatih menulis huruf yang mirip berulang kali.
3. Awasi anak ketika belajar matematika
Orang tua dan guru perlu melakukan pendekatan yang berbeda ketika belajar matematika dengan anak disleksia. Kebanyakan anak disleksia lebih menyukai sistem belajar yang praktikal. Anda perlu menyadari bahwa anak disleksia memiliki cara yang berbeda dalam menyelesaikan soal matematika, oleh karena itu, jangan memaksakan anak untuk menggunakan cara yang klasik karena tentu akan sulit ia terima.
4. Jaga perasaan anak disleksia
Anak disleksia dapat menjadi sangat sensitif, terutama jika ia merasa dibeda-bedakan dengan orang lain oleh orang tua dan gurunya. Kondisi ini akan membuat anak menjadi rendah diri dan tidak percaya diri. Orang tua dan guru seharusnya dapat membangkitkan semangat anak, berikan ia motivasi dan dukungan di setiap langkah yang ia tunjukkan, usahakan untuk tidak membanding-bandingkan anak disleksia dengan teman atau saudaranya yang tidak mengalami disleksia.
Semoga artikel di atas bermanfaat dan membuka wawasan kita akan disleksia. Jika anak Anda menunjukkan tanda-tanda disleksia, segera konsultasikan ke dokter. Semakin cepat disleksia dikenali, semakin cepat penanganan dini yang dapat dilakukan, sehingga anak tidak terlanjur masuk ke dalam kondisi yang lebih parah.
Baca juga:







