Hari pertama anak masuk sekolah tak jarang membuat orangtua khususnya ibu sedikit cemas. Biasanya kemana-mana dengan ibunya, sekarang harus terpisah sementara waktu dan belajar bersama guru. Untuk mengatasi kecemasan ibu, sebelum masuk sekolah di hari pertamanya, sebaiknya anak dipersiapkan lebih dulu.
Mungkin saat ini ibu sedang cemas membayangkan bagaimana anak ibu di hari pertamanya masuk sekolah. Kemarin-kemarin buah hati ibu masih manja, tak bisa jauh dari ibunya, makan minta disuapi, masih sering minta digendong. Sekarang, ia sudah mulai masuk sekolah sudah harus belajar mandiri. Namun, benarkan ia bisa mandiri di sekolah tanpa ibu?
Tak jarang, di hari-hari awal anak masuk sekolah masih harus ditunggui oleh ibunya. Hal ini karena anak belum mau jauh dari orangtuanya. Anak juga terkadang cemas karena belum kenal dengan temannya dan belum terbiasa dengan guru dan lingkungan sekolahnya. Apalagi karakter anak berbeda-beda, ada yang pemberani, ada pula yang penakut, bahkan pemalu. Sehingga akan mempengaruhi kesiapannya masuk sekolah di hari pertamanya.
Selain itu, ibu sendiri terkadang merasa tidak tega jika harus meninggalkan anak di sekolahnya saat hari pertama masuk sekolah ini. Karena takut si anak menangis, mencari ibunya, dan belum terbiasa dengan teman-temannya di sekolah. Padahal, tak semua sekolah, yakni preschool membolehkan orangtuanya menunggui anaknya secara terus-menerus. Hal ini dimaksudkan supaya anak terbiasa jauh dari ibunya.
Ibu perlu mempersiapkan anak-anaknya sebelum hari pertama masuk sekolah tiba. Hal ini penting dilakukan supaya kecemasan ibu terhadap anak di hari pertamanya masuk sekolah tak terjadi. Apa saja persiapan yang bisa dilakukan? Berikut ini ada beberapa hal yang bisa dilakukan ibu sebagai persiapan untuk buah hati menghadapi hari pertamanya masuk sekolah.
- Memperkenalkan makna sekolah kepada anak
Suatu ketika, ajak anak mengobrol tentang makna sekolah. Mengapa ia harus bersekolah, kegiatan di sekolah, tujuan bersekolah, hingga penjelasan kepadanya bahwa tidak boleh takut jika nanti di sekolah. Jelaskan hal ini dengan obrolan ringan bersama anak, supaya ia antusias untuk segera bersekolah, misalnya, “Dek, sebentar lagi Adek sekolah ya supaya pinter, katanya nanti kalau gede mau jadi dokter kan?” - Berkunjung ke sekolah
Ibu bisa mengajak anak untuk mengunjungi sekolah barunya sebelum benar-benar masuk sekolah di hari pertamanya. Perlihatkan ruangan-ruangannya, tempat-tempat bermainnya, dan lain-lain. Hal ini akan memudahkan anak untuk terbiasa dengan lingkungan sekolahnya. - Memperkenalkan anak kepada calon gurunya
Sebelum hari sekolahnya dimulai, ibu bisa bertemu dengan calon gurunya dan memperkenalkan anak kepada guru tersebut. Ibu bisa bertanya banyak mengenai sekolah sekaligus membuat anak terbiasa dengan calon gurunya. Hal ini akan membuat ibu nyaman, begitu juga anak ibu karena di hari pertamanya nanti, ia sudah mengenal gurunya dan memperkecil kemungkinan untuk takut. - Latih kemandirian
Melatih kemandirian anak sebelum ia bersekolah sebaiknya dilakukan. Hal ini karena di kelas, ia akan jauh dari ibunya. Tentu, anak sudah harus belajar melakukan beberapa hal tanpa bantuan orangtuanya, seperti saat ingin kencing, saat menggunakan sepatu, dan saat makan siang. Ibu bisa membiasakan anak untuk menggunakan toilet, makan sendiri, memakai sepatu, dan pakaiannya sendiri. Memang, tidak instan dan memerlukan kesabaran. Namun, jika dibiasakan, lama-lama anak akan terbiasa melakukannya tanpa bantuan orang lain, sehingga di sekolah nanti ia bisa jadi anak yang mandiri. - Belajar untuk melepaskan anak
Sesekali ibu bisa menitipkan anak ke neneknya atau ke pengasuh dalam beberapa jam. Jika anak masih rewel, berikan pengertian supaya ia paham dan mau berpisah dengan ibu. Hal ini untuk menghadapi hari pertama di sekolahnya nanti, yakni ibu mau tak mau harus melepaskannya bermain dan belajar bersama gurunya di kelas. - Ajari anak dengan tanggung jawab
Mengajari anak dengan tanggung jawab sederhana bisa dilakukan, misalnya ketika anak ingin bermain mainannya yang sudah dirapikan di dalam boks lalu ia menumpahkannya ke lantai. Ibu bisa mengenalkan tanggung jawab kepadanya dengan tidak melarang bermain dengan kondisi lantai penuh mainan, tetapi menyuruhnya merapikannya di dalam boks lagi setelah selesai bermain. Dengan begitu, anak pun akan belajar bertanggung jawab, mau menggunakan berarti mau pula merapikan. Tanggung jawab yang diajarkan secara sederhana ini diharapkan bisa pula diaplikasikan saat ia bersekolah nanti, misalnya merapikan mainan setelah usai dipakai di sekolah, menghapus papan tulis jika anak mencoret-coretnya, pulang tepat waktu usai sekolah, dan banyak lagi.
Ibu kini tak perlu cemas di hari pertama anak bersekolah. Hari-hari pertamanya ini memang membuat anak belajar hal baru, mulai dari teman, kebiasaan, lingkungan, hingga beberapa pernik yang lekat dengan kegiatan sekolahnya, yakni memakai seragam, memakai dasi, sepatu, membawa buku dan pensil, buku gambar, hingga tas. Jika ia sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum hari sekolahnya tiba, tentu anak akan lebih siap.







