Yuliati Umrah: “ASIku Selamatkan Masa Depan Buah Hatiku”

Ibu dari dua putra, aktivis kemanusiaan, pengusaha, dan pendiri beberapa organisasi sosial berbagi cerita tentang kehamilan dan pentingnya ASI.

Menikah dan memiliki buah hati adalah dambaan semua pasangan suami istri, selain karena kehadiran buah hati dianggap sebagai hasil ikatan cinta, juga sebagai penerus generasi keluarga sekaligus pewarisnya. Begitupun dengan saya dan suami yang sama-sama berasal dari keluarga Jawa tulen dan tentu saja berharap bahwa anak yang saya lahirkan dapat menjadi kebanggaan keluarga besar kami pula.

Namun ternyata tidak gampang terutama bagi saya, yang seorang aktivis kemanusiaan dan pergerakan politik dimana sejak mahasiswa waktu saya banyak dihabiskan untuk kegiatan sosial dan politik yang menyita sebagian besar waktu saya di luar rumah.

Sebuah pilihan yang tidak mudah ketika kami berdua memutuskan ingin memiliki momongan, di saat karier sosial saya dan suami mulai makin menanjak. Aktivitas kami berdua sama-sama luar biasa padat bahkan saat awal kehamilan sampai bulan ke tujuh, saya harus bolak balik Surabaya-Jakarta (seminggu di Jakarta dan 3 minggu di Surabaya) sendirian dengan menenteng setumpuk buku, laptop dan koper pakaian saya. Saya bekerja sebagai konsultan pada sebuah lembaga PBB yang berfokus pada isu remaja dan anak-anak pengguna narkoba di jalanan.

Namun sebuah konsekwensi logis bagi kami, calon orang tua yang menginginkan momongan yakni: Bertanggung jawab sepenuhnya menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua dalam memenuhi hak-hak anak. Menjadikan anak-anak yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan yang mampu mendorong sang buah hati menjadi anak-anak sehat dan terpenuhi semua haknya. Apalagi kami berdua memahami betul apa yang disebut hak-hak anak dan publik juga sangat tahu peran saya dan suami dalam memperjuangkan hak-hak anak.

Benar-benar bukan hal yang enteng membuktikan sejauh mana hak-hak anak terpenuhi dibanding teori yang saya selalu kemukakan di ruang publik. Saya pun memutuskan berhenti merokok sejak merencanakan kehamilan dan meminta suami untuk tidak merokok di dekat saya. Sejak awal kehamilan itulah, saya dan suami selalu mendiskusikan semua hal tentang seputar kehamilan demi kesehatan saya dan anak saya saat dalam kandungan dan setelah dilahirkan, serta modal penting untuk pertumbuhan di masa kanak-kanak dan remajanya kelak. Kawan diskusi kami adalah dokter kandungan, para sahabat yang telah lebih dahulu memiliki bayi, dan tentu saja buku-buku seputar kehamilan dan tahun-tahun awal bayi.

Hal-hal penting yang menjadi catatan kami berdua selama hamil:


1.Saya hanya boleh makan dari hasil masakan sendiri di rumah, kalaupun terpaksa makan di luar harus dipastikan bahwa saya hanya mengonsumsi makanan dari bahan baku yang sehat, tidak berpengawet, tidak ber-MSG dan memenuhi gizi yang seimbang sesuai kebutuhan ibu dan janin. Minum susu khusus ibu hamil serta menyusui dan rebusan air kacang hijau, saya lakukan sejak hamil hingga menyusui serta mengkonsumsi buah-buahan.

Jujur saja ini sulit buat saya yang biasa jajan di fast food, makan mie instan dan gampang ngiler kalau melihat tukang bakso lewat. Tapi demi sang anak ini harus dilakukan. Suami saya benar-benar sebagai watch dog soal yang satu ini. Mau tidak mau saya dan suami makin giat belajar memasak, memahami nutrisi setiap bahan baku masakan, mempelajari proses mengolah makanan agar nutrisinya tidak rusak.


2.Menyisihkan waktu untuk aktivitas yang menyenangkan bersama sahabat, keluarga, dan tentu saja waktu khusus bersama pasangan dalam suasana yang tidak berbeda romatisnya seperti saat pacaran dulu. Karena bagaimanapun, dukungan keluarga terutama pasangan dan sahabat untuk tetap optimis menjalani hari-hari kehamilan serta memiliki buah hati sungguh berbeda dengan saat masih lajang.

Perubahan fisik saya yang makin ‘membesar’ di semua sisi (sebagai catatan setiap hamil berat badan saya naik sampai 15 kg dan menyisakan 6 Kg sampai saat menyusui usai) yang seringkali membuat perempuan merasa tidak cantik lagi dan tidak pede.


3.Dukungan pasangan, saya sangat berbahagia menikah dengan pasangan yang sama-sama aktivis kemanusiaan dan paham betul soal perspektif gender. Bahwa perempuan bukan ditempatkan sebagai mahluk domestik yang sepenuhnya bertanggung jawab sendiri atas anak yang dikandung dan dirawat nantinya. Suami saya merasakan betul bahwa buah hati juga memiliki hak untuk dekat dengan dengan ayahnya, dan itu dibuktikan dengan mengambil peran dalam beberapa pekerjaan domestik di rumah yang sangat meringankan beban saya.

Dukungan lain adalah meyakinkan saya bahwa bayi yang membutuhkan ASI hanya dapat dipenuhi jika saya tidak takut gendut dan tidak seksi. Bahwa saya tetap sebagai perempuan yang sepenuhnya cantik karena mampu memenuhi kewajiban “Keperempuanan saya secara kodrati”, yakni menyusui.Maka bukan persoalan bagi saya tentang kenaikan berat badan dan turunnya bentuk payudara, karena saya tetaplah perempuan cantik bagi suami saya.


4.Sedikit demi sedikit mengurangi pengaruh pendekatan tradisional yang tidak rasional yang menyangkut pandangan atas nilai “perempuan” dan “anak” dimana seringkali pandangan tradisional yang membuat para ibu hamil dan menyusui diribetkan dengan tata laksana yang justru menyurutkan niat mulia para ibu menyediakan ASI untuk para bayi.

Saya tidak mau minum jamu ini itu yang katanya merapatkan alat vital dan tubuh saya seusai melahirkan, saya juga tidak mau memasang gurita rapat-rapat di tubuh bayi saya karena saya tidak setuju pandangan bahwa bayi musti mungil dan dadanya tidak melar. Suami sayapun demikian, mengharapkan akan memiliki anak dengan postur tubuh yang gagah dan tinggi besar, tidak seperti dia dari keluarga Jawa tulen dengan postur tidak terlalu gagah menurut ukuran umum (tingginya hanya 170 cm).

Sayapun menolak saran yang menyuruh saya memberi asupan makanan sejak usia 2 minggu, yang kata orang memberi tambahan makanan dan susu formula mempercepat pertumbuhan. Saya 100% tidak mau menerima anjuran ini.


5.Berdua, sekali lagi hanya berdua saya dengan suami belajar dan berbagi peran dalam perawatan bayi sesuai anjuran dokter anak dan buku-buku medis perawatan bayi. Walaupun suami saya adalah laki-laki, tapi dia mampu berperan sebagai pengasuh bayi dan saya punya waktu beristirahat agar tubuh saya tetap sehat dan menjamin asupan gizi bayi saya, agar ASI akan tetap terpenuhi.

Kisah lain yang bisa saya bagikan adalah saat melahirkan anak pertama, saya mendapat kecelakaan yakni terjatuh dari lantai 2 yang memaksa bayi saya haris dilahirkan di usia kandungan baru memasuki bulan ke-8 (minggu ke 32). Dalam kondisi fisik dan mental yang drop karena peristiwa kecelakaan tersebut, saya sempat syok dan patah semangat. Sekali lagi suami saya selalu ada mendampingi saya dan tak henti menyemangati bahwa dia akan ambil bagian dalam merawat buah hati kami yang terlahir hanya dengan berat badan 2,5 kg. Akibat dari kelahiran prematur, bayi saya kurang mampu menyedot ASI secara optimal serta menderita asma bawaan dari suami saya. Tapi saya tidak putus asa, saya terus berusaha menyusui si sulung dan sesekali memberikan ASI yang sudah saya pompa lewat botol susu. Hasilnya memang tidak terlalu banyak namun terus dan terus saya usahakan agar sulung tetap minum ASI.

Pengalaman pahit melahirkan si sulung yang prematur menjadi pelajaran penting buat saya saat kehamilan kedua. Kami berdua lebih hati-hati dan menata kembali strategi agar ASI keluar lebh banyak dan berkualitas. Ada sedikit perbedaan jenis pompa ASI yang saya gunakan, kali ini menggunakan pompa yang langsung tersalur hasilnya perasannya masuk ke dalam botol susu.

Selain itu, waktu memompa harus 1 jam setelah makan atau bangun tidur. Karena badan kita relaks serta asupan yang masuk telah terolah menjadi ASI. Nah, frekuensi mengeluarkan ASI (baik menyusui langsung maupun lewat teknik pompa) yang semakin sering ternyata semakin melancarkan suplai ASI. Namun, tentu harus tetap dijamin bahwa ASI saya berkualitas dengan cara mengonsumsi makanan-makanan seperti yang saya sebutkan di atas.

Hari-hari saya yang tetap bekerja di luar rumah bahkan seringkali pindah-pindah dari hotel ke hotel mengisi materi pelatihan dan ceramah di beberapa tempat, berarti membawa serta suami saya. Mau tidak mau kami harus saling mengalah dalam pembagian kerja yang berurusan dengan peran sosial ekonomi. Saya musti berkordinasi dulu dengan suami sebelum menetapkan jadwal keliling saya di luar rumah saat suami benar-benar bisa meninggalkan pekerjaan rutinnya. Untungnya ini bukan hal sulit bagi suami saya.

Maka biarpun saya bekerja, saya tetap punya waktu menyusui pada saat rehat/coffee break 15 menit tiap pukul 10 pagi dan 3 sore, serta 1 jam penuh menyusui, makan siang dan istirahat sejenak bersama bayi di kamar hotel saat makan siang. Saat sore dan malam hari, saya kumpulkan ASI lewat teknik pompa dan menghasilkan 2 liter ASI yang dapat digunakan untuk cadangan asupan bayi saya saat saya di ruang kerja.

Di kamar saya juga membawa cooler box untuk menyimpan stok ASI, warmer listrik atau microwave untuk menghangatkan ASI. Pemberian ASI bila saya sedang tidak di sebelah sang bayi atau saat istirahat harus dilakukan suami saya. Bukan orang lain. Karena anak saya juga menjadi bagian dalam daftar tanggung jawab pengasuhan pasangan saya.

Saya selalu bahagia saat melihat suami saya memberikan ASI botol untuk anak-anak saya dan menyilahkan saya istirahat. Apalagi bila saat menyusui suami selalu menyediakan air mimum serta camilan sehat seperti buah segar atau puding. Bahkan pernah saking rakusnya menyedot ASI membuat saya kelaparan dan suami sayalah yang menyuapi saya. Karena dia tidak mau saya kehausan dan kelaparan.

Pernah suatu saat saya harus menghadiri pertemuan di luar kota selama 2 hari saat bayi kedua saya berumur 4 bulan. Saat itu si sulung sedang tidak enak badan dan tidak memungkinkan ikut serta ke luar kota (Yogyakarta). Kami memutuskan agar suami dan anak-anak tetap di rumah dan saya harus sendirian ke luar kota selama DUA HARI.

Persiapan pengumpulan ASI sudah saya lakukan selama seminggu sebelumnya hingga menjamin cukup ASI perhari 2 liter setiap harinya. Dan saya pun membeli 10 botol baru yang saya bawa keluar kota beserta cooler box-nya. Walhasil, karena bayi saya tidak ikut maka ASI saya amat sangat berlimpah dalam satu hari sehingga botol susu kosong hanya tersisa 2 buah saat memompa pukul 18.00 seusai meeting hari pertama.

Saya beritahukan hal ini ke suami, maka malam itu juga suami saya menyusul saya ke Yogyakarta menggunakan bis malam dan subuh sudah menemui saya sambil membawa 10 botol cadangan baru dengan cooler box-nya. Pertemuan kami tidak lama, hanya 1 jam. Suami saya membawa pulang 10 botol (2,5 lt) ASI ke Surabaya. Saya bayangkan betapa lelahnya perjalanan menggunakan bus selama 7 jam PP (berarti 15 jam) dengan hanya berhenti rehat 1 jam saja. Tapi perjuangan suami saya demi sang bayi berbuah luar biasa untuk masa depan buah hati kami.

ASI untuk bayi-bayi kami tak pernah terputus, begitu juga hubungan saya dan suami untuk buah hati. Kami tak pernah melibatkan orang lain selain kami berdua dalam perlindungan dan perawatan mereka. Seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Perlindungan Anak, bahwa anak-anak berhak diasuh dan dirawat oleh orang tua kandunganya. Kedekatan anak-anak terhadap saya, sama dekatnya terhadap suami saya. Karena mereka tak hanya merasakan dekapan bundanya saat saya susui namun juga dekapan hangat ayahnya saat memberikan ASI dalam botol.

Kini si sulung berumur 12 tahun dan si bungsu 9 tahun. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang sehat, cerdas, dan berbudi sangat santun. Keduanya memiliki hobi tak jauh dari kami berdua, penyuka olahraga, travelling, dan seni lukis.

Si sulung, yang lahir prematur dan penderita asma bawaan kini tinggi badannya 162 cm dengan berat badan 48 kg, menjadi atlet atletik tingkat junior dan telah menjuarai kejuaraan kelompok usia tingkat provinsi. Karya lukisan buatannya sudah mulai dikoleksi banyak sahabat serta kolega kami berdua. Sedang karya fotografinya sudah mulai mengisi beberapa majalah di penerbangan (flight magazine) dimana saya menjadi kolumnisnya. Di sekolahnya, si sulung yang duduk di kelas 1 SMP mendapatkan nilai terbaik di kelasnya bahkan 5 besar di angkatannya karena terbaik dalam nilai sains.

Si bungsu mulai menampakkan bakatnya di bidang yang sama dan memiliki kelebihan dalam menulis cerita/artikel ringan dalam bahasa Jepang (menggunakan huruf Hiragana dan Katagana) serta kemampuan membuat seni origami dalam ratusan bentuk.

Banyak teman saya dan suami serta keluarga besar merasa kewalahan kalau berdialog dengan kedua anak saya. Karena semua pertanyaan yang diajukan tentang hal apapun yang mereka lihat dan dengar tidak pernah puas bila tidak dapat jawaban yang logis dan dapat diruntut secara rasional. Beberapa psikolog dan guru-guru mereka yang pernah melakukan tes terhadap anak-anak saya mengatakan bahwa anak-anak saya mengalamai lompatan kemampuan fisik dan kognisi 2 tahun lebih cepat dari usia normalnya.

Tak heran, kritikan anak-anak terhadap kami orang tuanya bahkan gurunya mengenai keputusan-keputusan sepihak yang berdampak pada anak-anak tak jarang mereka kemukakan. Karena anak-anak saya merasa nyaman dengan siapapun yang ditempatkan sebagai orang yang mereka percaya dapat diandalkan.

Kedua anak saya yang berjenis kelamin laki-laki itu, juga tidak keberatan membantu saya saat di luar jam sekolah untuk menjemur pakaian bahkan memasak di dapur. Dan tetap menjalani hari-harinya bermain dengan teman sebaya mereka seperti bersepeda, main bola, dan permainan kartu kwartet favorit mereka.

Maka jelaslah dalam pengalaman saya, bahwa tanpa ASI mungkin anak-anak tak sehebat saat ini. Si sulung yang prematur dan penderita asma, bisa dibayangkan bila mengandalkan susu formula maka makin memperparah sakit asmanya.Si bungsu yang lebih sering saya tinggal keluar kota, bisa jadi anak yang tak mampu menulis cerita pendek dalam bahasa Jepang kalau saja kedekatan batin saya dan suami untuk dia serta asupan ASI yang tak pernah terputus tidak terpenuhi.

ASI tak hanya menjamin kelangsungan hidup anak-anak saya saat memulai hidupnya yag kritis, namun makin mendekatkan dan menguatkan keluarga kecil kami serta makin menebalkan visi saya dan suami yang menekuni dunia aktivis kemanusiaan untuk terus berjuang agar semua orang tua mampu memberikan harapan hidup terindah kapada anak-anak. Kedua orang tua kandung yang peduli pada masa depan mereka sejak dalam kandungan.

Semoga kisah saya dapat menjadi inspirasi untuk perempuan Indonesia. Berikan yang terbaik buat anak, karena mereka adalah penerus bangsa ini.

Sebelum menjadi Feature writer, saya bekerja di World Vision Indonesia dan ditempatkan di Nusa Tenggara Timur. Saya menikmati bekerja bersama dengan masyarakat terutama yang fokus di bidang kesehatan Ibu dan anak. Saya juga menyukai traveling ke daerah pendalaman. Passion saya ingin membantu mewujudkan perempuan Indonesia yang sehat dan cerdas.

Related Posts

Comments :