Third-hand smoke adalah gas atau partikel beracun yang tersisa dari asap rokok. Sisa asap rokok tersebut bisa bertahan selama berjam-jam bahkan berhari-hari pada rambut, pakaian, dan kulit si perokok. Gas beracun ini juga bisa menempel di permukaan perabotan rumah tangga, dinding, gorden, selimut, karpet dan lantai. Selain itu, mereka yang merokok di dalam mobil juga bisa menyisakan gas-gas beracun di dalam mobilnya.
Contoh sederhananya ketika seorang perokok masuk ke dalam lift dan seketika Anda langsung mendeteksi bau rokok yang ternyata berasal dari pakaiannya, maka hal tersebut menunjukkan adanya third-hand smoke di dalam lift tersebut.
Third-hand smoke ini berbeda dengan second-hand smoke, bila third-hand smoke muncul sebagai efek dari rokok yang telah dimatikan, second-hand smoke berarti asap dari rokok yang dinyalakan perokok aktif, lalu terhirup oleh perokok pasif. Efek dari third-hand smoke ini bisa menyerang keduanya, baik perokok maupun mereka yang bukan perokok.
Berdasarkan National Toxicology Program, asap rokok mengandung sekitar 250 jenis toksin, seperti hidrogen sianida (digunakan pada senjata kimia), butana (digunakan pada cairan pemantik api), toluena (digunakan pada pembersih cat), arsenic (biasanya terdapat pada racun tikus), dan sebagainya. Bayangkan jika toksin tersebut terhirup dan masuk ke dalam tubuh anak Anda.
Seperti yang telah disinggung di atas, third-hand smoke ini bertahan berjam-jam hingga berhari-hari setelah rokok dihisap. Ketika Anda merokok di luar rumah atau merokok di rumah saat rumah dalam keadaan kosong, Anda mungkin mengira tidak akan berisiko apa-apa terhadap orang rumah, akan tetapi, racun dari asap rokok itu akan tetap bertahan walaupun jendela rumah dibuka dan ventilasi udara berfungsi dengan baik. Beberapa studi menunjukkan bahwa ketika merokok satu batang dalam suatu ruangan, ruangan tersebut memerlukan waktu 2 jam untuk membuat kualitas udara menjadi normal kembali, namun bukan berarti racunnya hilang.
Bayi dan balita sangat rentan terekspos third-hand smoke ini karena mereka sangat senang mengambil benda-benda yang ada di lantai lalu memasukkannya ke dalam mulut, padahal benda-benda tersebut telah terpapar third-hand smoke. Selain itu, anak juga sering berguling-guling di karpet yang sudah terkontaminasi partikel racun dari asap rokok yang bercampur dengan debu lantai. Tahukah Anda, si Kecil menghirup debu dua kali lebih banyak dari orang dewasa. Hal ini dikarenakan anak kecil masih memiliki sistem pernafasan lebih cepat. Otak dan sistem organ anak juga masih dalam masa perkembangan yang membuatnya mudah menerima racun.
Jika orangtuanya merokok, maka kemungkinan besar sang anak bisa terpapar third-hand smoke. Seorang peneliti dari Amerika, Jonathan Winickoff, MD, MPH, menyatakan bahwa di manapun Anda merokok, racun dari asap rokok tersebut akan menempel di rambut dan pakaian Anda. Saat Anda menggendong anak, walaupun pada saat itu Anda tidak merokok, si Kecil akan menghirup racun dari asap rokok yang menempel di tubuh Anda. Winickoff juga menambahkan bahwa bayi dapat terpapar third-hand smoke dari air susu ibunya yang merokok sebelum menyusui atau si ibu telah terpapar third-hand smoke sebelumnya sehingga dapat menularkan ke anaknya.
Apa akibatnya jika anak Anda terkena third-hand smoke?
Walaupun banyak penelitian yang memperlihatkan dampak buruk rokok bagi bayi, balita dan remaja, belum ada hasil pasti yang menunjukkan apakah third-hand smoke dapat menimbulkan sebuah penyakit. Akan tetapi, The Breathe Easy Coalition of Maine, sebuah organisasi di negara bagian Maine – Amerika yang concern terhadap dampak rokok menyebutkan bahwaterdapat beberapa dampak dari third-hand smoke terhadap bayi dan balita, seperti meningkatkan risiko asma. Apalagi jika anak telah memiliki riwayat penyakit asma, kemungkinan asmanya akan menjadi lebih parah apabila terpapar third-hand smoke dari orang-orang sekitarnya. Selain itu, jika sisa nikotin yang menempel di perabotan rumah bercampur dengan zat lainnya yang beredar di dalam rumah, maka dapat berpotensi menimbulkan zat karsinogen, yaitu zat penyebab kanker.
Dampak yang paling menakutkan adalah third-hand smoke dapat meningkatkan risiko Sudden Infant Death Syndrome (SIDS). SIDS adalah kematian bayi yang tiba-tiba, tidak diduga-duga, dan tidak dapat dijelaskan. Seperti yang dikutip dari situs www.nhs.uk, setidaknya ada 300 bayi yang meninggal secara tiba-tiba setiap tahunnya di UK. Statistik ini mungkin terdengar menakutkan bagi Anda, namun SIDS ini terbilang jarang terjadi. Kasus SIDS ini kebanyakan terjadi ketika bayi berusia 0-6 bulan. Bayi lahir prematur dan atau bayi yang lahir dengan berat badan rendah (BBLR), berisiko besar mengalami SIDS ini.
Tidak ada yang mengetahui pasti apa penyebab SIDS ini, namun para ahli meyakini SIDS merupakan hasil dari kombinasi beberapa faktor, termasuk faktor lingkungan. Faktor lingkungan ini terdiri dari beberapa pendukung, seperti asap rokok.
Bagaimana mengurangi resiko SIDS pada bayi?
- Tidak merokok ketika hamil atau setelah bayi lahir bagi sang ibu.Atau menjauh dari asap rokok.
- Jangan biarkan orang lain merokok di dalam rumah atau di ruangan yang sering ditempati anak.
- Apabila ada anggota keluarga yang perokok, jangan tidurkan bayi diranjang yang sama dengan perokok. Atau di sofa, dikhawatirkan sofa tersebut sudah terkontaminasi dengan racun tersebut dan terhirup oleh bayi.
- Jika Anda atau pasangan merokok, maka usahakan untuk berhenti merokok. Walaupun Anda merokok di ruangan terbuka, tidak akan menghilangkan risiko orang lain terkena third-hand smoke yang menempel di tubuh Anda setelah merokok.
Tips di atas mungkin sulit untuk diterapkan, apalagi bagi mereka yang sudah terbiasa merokok. Begitu juga halnya dengan yang tidak perokok. Niat untuk tidak terkena asap rokok pastilah sulit seiring dengan meningkatnya jumlah perokok di dunia. Di Indonesia, lebih dari separuh penduduk pria merokok setiap harinya. Dengan demikian, risiko third-hand smoke terhadap anak juga kemungkinan meningkat.
Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat menyadarkan masyarakat akan bahaya rokok termasuk third-hand smoke terhadap bayi dan anak-anak.







28 May 2014
Penulis Dinny Mutia
0 Komentar

