Si Kecil ranking berapa di kelas? Mungkin ini menjadi pertanyaan paling mengganggu ketika hari pembagian rapor tiba. Sering kali kita sebagai orang tua tidak terima apabila anak kita memiliki nilai buruk di sekolah. Namun, apa boleh dikata, kemampuan Si Kecil memang tidak sebaik teman-teman yang lain. Padahal, Si Kecil sama-sama mendapatkan pelajaran yang identik dengan teman-teman sekelasnya. Pertanyaan paling mendasar pun muncul, apakah Si Kecil perlu menjadi nomor satu di kelas?
Perlukah?
Banyak orang tua yang tidak suka anaknya mendapatkan nilai jelek di kelas. Beberapa dari mereka bahkan menyalahkan gurunya yang pilih kasih atau mungkin sekolah yang kurang bagus. Padahal, belum tentu faktor tersebut yang jadi biang masalahnya. Bisa jadi, Si Kecil yang memang tidak memiliki motivasi untuk menjadi yang terbaik.
Namun, bukan itu sebenarnya yang jadi pertanyaan yang harus kita pikirkan bersama. Hal yang paling penting justru kembali ke mindset kita, apakah perlu untuk mendidik Si Kecil menjadi anak dengan nilai akademik nomor satu di kelas? Hal tersebut yang harus kita renungkan secara baik-baik.
Dua Sisi Koin yang Berbeda
Cobalah untuk berpikir sejenak, apakah semua anak memiliki kesukaan dan ketertarikan yang sama terhadap sesuatu? Tentu tidak, bukan? Setiap anak pasti punya beberapa atau paling tidak satu kesukaan dalam setiap aktivitasnya. Misalnya, anak A lebih suka berhitung, sedangkan anak B malah suka menggambar. Untuk menjadi nomor satu, setidaknya Si Kecil harus menguasai semua mata pelajaran. Rasanya tidak mungkin untuk menguasai semua mata pelajaran dengan sempurna.
Di sisi lain, Si Kecil juga perlu motivasi lebih. Tidak mau kalah adalah sifat dasar anak-anak. Sifat inilah yang kemudian menjadi pemicu agar Si Kecil punya motivasi untuk mengalahkan teman-teman sekelasnya dan menjadi nomor satu di kelasnya. Hal ini akan menumbuhkan semangat bersaing yang juga otomatis berimbas pada sisi akademik Si Kecil di sekolah.
Kebijaksanaan orang tua dalam memilih apa yang terbaik untuk Si Kecil sangat diperlukan demi perkembangannya. Jangan sampai Mam justru kurang bijak dan akhirnya malah menekan Si Kecil sehingga membuatnya stress karena selalu mendapatkan tekanan.







25 Mar 2016
Penulis Redaksi IbuDanMama
0 Komentar