Memiliki keluarga yang mapan tentunya adalah harapan bagi setiap orang. Apabila bisa memilih, mungkin Mam lebih ingin menjadi stay-at-home mom alias ibu rumah tangga selama penghasilan Ayah mencukupi. Namun, ketika menikah, masalah pengeluaran tidak hanya terbatas pada Mam dan Ayah saja, melainkan juga melibatkan anak-anak. Demi kesejahteraan dan kebahagiaan si Kecil, Mam dan Ayah haruslah kompak dalam mengatur keuangan. Hindarilah hal-hal berikut ini, yang diketahui dapat menjadi penyebab finansial keluarga bermasalah.
Tidak Terbuka Masalah Uang
Masalah ini bisa muncul sejak Mam dan Ayah masih di masa berpacaran. Uang dan gaji memang topik yang sensitif, namun ini perlu dibicarakan sejak awal sebelum pernikahan dan rumah tangga berjalan. Dengan begitu, Mam dan Ayah bisa menentukan bagaimana cara mengatur keuangan dan memperhitungkan persiapan pengeluaran ke depannya. Selain mengetahui gaji masing-masing, alangkah baiknya pula bila Mam dan Ayah tahu apakah masing-masing diri sedang berada dalam kondisi berutang dengan pihak lain.
Lupa Menabung
Meski pun sedikit, menabung adalah hal yang penting untuk dilakukan oleh setiap pasangan. Tujuannya adalah untuk persiapan kehidupan keluarga di masa depan, karena Mam dan Ayah tidak tahu hal-hal apa yang mungkin terjadi nantinya. Jangan merasa sombong karena keadaan keuangan saat ini sedang dalam keadaan baik. Bagaimana bila seandainya tiba-tiba Mam positif hamil lagi?
Tidak Membuat Perencanaan Keuangan
Ketika sudah berumahtangga, perencanaan keuangan haruslah menjadi prioritas Mam. Coba perhatikan, pernahkah Mam dan Ayah bertengkar karena menuduh diri masing-masing berperilaku boros? Perlu dipahami bahwa Mam dan Ayah memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda. Solusi untuk mengatasi ini adalah dengan menyusun budget secara bersama. Utamakan kebutuhan keluarga, biaya bulanan, biaya tak terduga, dan tentunya menabung.
Itulah tiga hal yang bisa membuat keadaan finansial keluarga menjadi berantakan. Biasakanlah untuk bersama-sama kompak mengatur keuangan dengan baik, transparan, dan bertanggungjawab. Samakan frekuensi antara Mam dan Ayah, agar tidak ada yang merasa dirugikan.







18 Mar 2016
Penulis Redaksi IbuDanMama
0 Komentar