Ketika Hari Lebaran akan tiba, mudik menjadi salah hal yang paling penting dilakukan. Kesempatan untuk bertemu dengan keluarga pasti tidak ingin dilewatkan oleh semua orang. Apalagi liburan hari Lebaran yang bisa dibilang cukup lama ketimbang libur di hari raya lain. Jadi sayang apabila kita melewatkan kesempatan ini.
Di sisi lain, aktivitas mudik cukup melelahkan dan merepotkan bagi semua orang, terutama wanita yang sedang hamil. Tentu menjadi dilemma tersendiri ketika kita yang sedang dalam kondisi hamil untuk ikut mudik atau tidak. Mungkin tidak masalah jika tujuan mudik Mam tidak terlalu jauh karena tidak terlalu melelahkan. Lantas, apakah ibu hamil boleh ikut mudik jauh? Hal ini ternyata bergantung pada beberapa hal. Berikut ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan sebelum Mam berangkat mudik ke tujuan yang jauh.
Kondisi Kehamilan
Periksakan ke dokter kandungan atau ke bidan untuk mencari tahu bagaimana kondisi kehamilan Mam. Hal yang perlu dikonsultasikan adalah seputar kondisi kesehatan Mam dan janin dalam kandungan. Sebaiknya, patuhi rekomendasi dokter atau bidan untuk menghindarkan Mam dan bayi dalam kandungan dari risiko gangguan kehamilan.
Biasanya, kondisi kehamilan muda adalah yang paling rawan untuk melakukan perjalanan jauh. Pasalnya, dalam kondisi ini, janin masih belum kuat benar menempel di dinding rahim. Kondisi tersebut diperburuk oleh keadaan ibu yang mengalami morning sickness, dimana setiap saat akan merasakan mual dan ingin muntah. Hal ini akan melemahkan kondisi tubuh sehingga risiko gangguan kehamilan meningkat.
Jalur Mudik
Perhatikan juga jalur mudik yang Mam akan lewati nantinya. Tujuannya adalah untuk melihat apakah jalur-jalur yang Mam lewati merupakan jalur yang ramai atau tidak. Jalur mudik yang ramai biasanya menyebabkan kemacetan parah. Ketika macet, tubuh akan merasa cepat lelah dan kondisi kejiwaan juga cenderung stress. Hal ini akan membahayakan bagi Mam dan calon bayi.
Selain itu, kondisi jalan juga patut diperhitungkan. Guncangan-guncangan atau jalan-jalan yang berliku mampu membuat kondisi tubuh melemah akibat mual dan muntah berkepanjangan. Untuk itu, carilah jalur yang lebih halus dan landai agar terhindar dari kondisi tersebut.
Kendaraan yang Digunakan
Pilihlah kendaraan mudik senyaman mungkin. Bila menggunakan kendaraan pribadi, ada baiknya apabila Mam bepergian menggunakan mobil daripada motor. Hal ini dikarenakan mobil lebih nyaman untuk perjalanan jauh. Mam bisa duduk dengan bebas dan senyaman mungkin.
Bila naik kendaraan umum, ada baiknya Mam berangkat lebih awal. Hal ini untuk menghindari penuh sesak penumpang di kendaraan umum sehingga Mam tidak terlalu stress saat perjalanan mudik.
Barang Bawaan
Hindari membawa barang bawaan terlalu banyak atau terlalu berat. Selain merepotkan, membawa barang bawaan yang berat membuat ibu hamil cepat lelah. Bila menggunakan kendaraan pribadi, mungkin hal ini bisa dihindari. Namun bila menggunakan kendaraan umum, tentunya akan sangat menyulitkan Mam ketika bergerak.
Oleh karena itu, hendaknya Mam perlu mengurangi barang bawaan. Cukup bawa pakaian dan peralatan yang penting. Terapkan aturan cuci pakai ketika berada di tempat tujuan mudik sehingga Mam tetap mendapatkan stok baju bersih tanpa perlu repot membawa baju terlalu banyak.
Pakaian yang Dikenakan
Hal yang terakhir yang wajib Mam perhatikan adalah pakaian yang dikenakan selama perjalanan. Perjalanan mudik mungkin akan menjadi perjalanan yang sangat melelahkan. Tubuh akan dengan mudah berkeringat dan membuat perasaan yang tidak nyaman. Hal ini akan membuat stress, sadar atau tidak.
Untuk menanggulanginya, sebaiknya Mam menggunakan pakaian berbahan katun yang mudah menyerap keringat. Selain nyaman, bahan katun juga dingin ketika dipakai sehingga meskipun udara sedang panas-panasnya, Mam masih merasa nyaman.
Itulah setidaknya beberapa hal yang menjadi pertimbangan Mam sebelum berangkat mudik jauh dalam kondisi hamil. Ingat, jangan memaksakan diri untuk mudik apabila kondisi kehamilan Mam tidak memungkinkan. Kelelahan justru akan berakibat pada gangguan kehamilan bahkan kelahiran dini. Jangan sampai hal tersebut terjadi pada Mam dan Si Kecil yang ada dalam kandungan. Bagaimanapun, kehamilan Mam yang paling utama.







03 Jul 2016
Penulis Redaksi IbuDanMama
0 Komentar